Utusan AS Kunjungi Beirut di Tengah Ketegangan Lebanon-Israel

Seorang utusan senior Amerika Serikat tiba pada hari Kamis (11/1) di Beirut di tengah upaya internasional untuk membendung dampak regional dari perang yang sedang berlangsung di Gaza dan mencegah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Hizbullah di front Lebanon.

Amos Hochstein, penasihat senior Presiden AS Joe Biden, memediasi kesepakatan penting yang menentukan perbatasan laut Lebanon dan Israel yang ditandatangani pada tahun 2022.

Sebelum pecahnya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober, ia mengatakan ia berharap bisa menjadi perantara kesepakatan serupa di perbatasan darat – sebuah topik yang lebih rumit dan sarat politik.

Hochstein bertemu dengan Perdana Menteri sementara Lebanon Najib Mikati dan Ketua Parlemen Nabih Berri di Grand Serail (Istana Pemerintahan) pada hari Kamis.

Dia mengatakan pada konferensi pers bahwa kedua pihak “lebih memilih solusi diplomatik.”

“Saya pikir Anda semua sudah mendengar apa yang dikatakan pemerintah Israel, yaitu bahwa peluangnya sempit, tapi mereka lebih memilih solusi diplomatik. Saya pikir itulah initinya. Kita hidup dalam momen krisis di mana kita ingin melihat solusi diplomatik. Saya yakin kedua pihak lebih memilih solusi diplomatik, dan tugas kita adalah untuk mencapainya,” ujar Hochstein.

Kelompok militan Hizbullah di Lebanon dan pasukan Israel terlibat bentrokan hampir setiap hari selama tiga bulan terakhir.

Pertempuran meningkat dalam beberapa pekan terakhir, terutama sejak sebuah serangan yang diduga dilakukan Israel menewaskan seorang pemimpin tinggi Hamas dan seorang komandan senior Hizbullah di Lebanon bulan ini.

Para pejabat Israel mengancam akan terjadi perang yang lebih luas di Lebanon jika Hizbullah tidak menarik pasukannya ke utara sungai Litani sebagaimana diatur dalam perjanjian gencatan senjata tahun 2006.

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dalam pidatonya baru-baru ini mengisyaratkan keterbukaan bagi Lebanon untuk mencapai kesepakatan mengenai perbatasan darat namun dia mengatakan hal itu hanya bisa terjadi setelah perang Israel-Hamas berakhir.

Menteri Luar Negeri Lebanon Abdallah Bou Habib mengatakan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai demarkasi perbatasan darat atau kehadiran Hizbullah di wilayah perbatasan yang akan ditandatangani sebelum perang berakhir. Namun, dia menambahkan bahwa diskusi dapat dimulai saat konflik masih berlangsung. [lt/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com