Uni Eropa Usulkan Penghapusan Proposal Pestisida

Badan eksekutif Uni Eropa, Selasa (6/2) menunda proposal anti-pestisida, sebagai konsesi tambahan bagi petani, setelah berminggu-minggu aksi demonstrasi yang memblokir jalur utama di berbagai ibu kota dan kehidupan ekonomi di seluruh blok beranggotakan 27 negara tersebut.

Meskipun usulan tersebut belum terealisasi di lembaga-lembaga UE selama dua tahun terakhir, langkah yang diambil oleh Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen merupakan indikasi terbaru, bahwa UE bersedia mengabaikan beberapa permasalahan lingkungan hidup agar komunitas pertanian tetap mendukung mereka.

Para petani bersikukuh bahwa kebijakan seperti yang diterapkan pada pestisida hanya akan menambah beban birokrasi dan membuat mereka sibuk di depan laptop, dibandingkan mengoperasikan traktor, serta menambah kesenjangan harga antara produk mereka dan produk impor murah, yang diproduksi oleh petani asing tanpa beban aturan serupa.

Proposal pestisida “telah menjadi simbol polarisasi,” kata von der Leyen kepada Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis. “Untuk bergerak maju, diperlukan lebih banyak dialog dan pendekatan yang berbeda,” tambahnya. Diakuinya, usulan tersebut dibuat atas desakan para petani.

“Petani memerlukan alasan bisnis yang bermanfaat untuk melakukan upaya-upaya perbaikan alam. Mungkin kami belum menyampaikan kasus tersebut dengan meyakinkan,” kata von der Leyen.

Tidak jelas kapan proposal baru akan disusun. Pemilihan parlemen Uni Eropa akan dilaksanakan pada Juni, dan nasib buruk para petani telah menjadi titik fokus kampanye, bahkan mengesampingkan isu-isu iklim selama beberapa minggu terakhir.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam debat mengenai hasil KTT UE terbaru, sebagai bagian dari sesi pleno di Parlemen Eropa di Strasbourg, Prancis timur, 6 Februari 2024. (FREDERICK FLORIN / AFP)

Keputusan untuk menunda proposal mengenai pestisida merupakan tindakan terbaru UE yang merupakan langkah retribusi politik, sebagai reaksi terhadap protes yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari puluhan juta warga UE dan merugikan bisnis hingga puluhan juta euro, karena keterlambatan transportasi.

Pekan lalu, von der Leyen mengumumkan rencana untuk melindungi petani dari produk-produk murah yang diekspor Ukraina di tengah perang, dan mengizinkan petani untuk menggunakan sebagian lahan yang seharusnya mereka biarkan kosong untuk alasan kepentingan lingkungan.

Komisi Eropa akan mengumumkan langkah-langkah lebih lanjut pada Selasa malam, mengenai tata cara mencapai targetnya yang ketat, untuk menekan perubahan iklim. Para aktivis lingkungan khawatir akan ada lebih banyak konsesi di tengah upaya ini.

Di Prancis, di mana aksi demo telah mencapai masa kritis, pemerintahnya telah menjanjikan dukungan keuangan tambahan sebesar lebih dari 436 juta dolar AS.

Sementara itu, protes terus berlanjut di banyak negara Uni Eropa. Pada Senin malam, para petani Belanda memblokir beberapa ruas jalan dan jalan tol dengan traktor mereka serta membakar tumpukan jerami dan ban.

Polisi di provinsi pedalaman, Gelderland mengatakan mereka mengambil tindakan terhadap para petani yang memblokir jalan, namun belum ada laporan mengenai penangkapan.

Dalam beberapa minggu terakhir, para petani telah melakukan protes mulai dari Polandia hingga Yunani, dan dari Irlandia, Jerman hingga Lituania. [ns/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com