Uni Eropa Adopsi Sanksi Baru bagi Rusia

Uni Eropa pada Senin (18/12) mengadopsi paket sanksi baru terhadap Rusia yang mencakup larangan impor berlian Rusia, kata para pejabat.

Paket tersebut merupakan paket ke-12 yang ditujukan ke Moskow sejak mereka mengirim pasukan Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022, dalam invasi skala penuh.

Sanksi ini dirancang untuk mengurangi akses Rusia pada pendapatan, logam, dan teknologi yang digunakan untuk terus melakukan perang.

Putaran sanksi terakhir diselesaikan Jumat lalu oleh utusan dari 27 negara anggota UE, tetapi tidak diadopsi secara resmi karena adanya keberatan dari Austria. Keberatan itu kemudian dicabut.

“Kami terus mendukung Ukraina, melalui suka dan duka,” kata Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Larangan Uni Eropa terhadap berlian Rusia mencakup jenis alami dan sintetis, serta perhiasan mulai Januari, dan berlian Rusia yang dipotong di negara lain mulai September tahun depan.

Moskow dituduh mempermudah mengisi kocek perangnya, dengan hasil penjualan berlian, yang diperkirakan bernilai AS $4 miliar hingga AS $5 miliar per tahun.

Belgia, yang menjadi rumah bagi pusat perdagangan berlian utama di kota Antwerpen, menghapus keraguannya terhadap larangan tersebut, menyusul keputusan G7 yang mendukung tindakan ini.

Industri ini telah mengusulkan beberapa solusi, termasuk sistem pelacakan, untuk membatasi dampak sanksi terhadap bisnis tersebut.

Paket sanksi tersebut juga memperluas upaya UE untuk membatasi teknologi yang dapat digunakan Moskow untuk tujuan militer, dengan menambahkan 29 perusahaan lagi ke dalam daftar entitas yang dilarang mengekspor produk yang dapat membantu industri senjata Rusia.

Beberapa perusahaan tersebut berada di negara-negara di luar UE dan diduga menghindari sanksi blok tersebut, menurut pernyataan Dewan Eropa.

Beberapa negara, seperti Kazakhstan, dituduh membantu Rusia mengimpor produk dan teknologi tertentu yang dapat mendukung industri militernya.

Uni Eropa juga mengupayakan penegakan yang lebih baik atas sanksi-sanksi sebelumnya yang berdampak pada ekspor minyak Rusia, yang membatasi harga minyak mentahnya sebesar AS $60 per barel.

Rusia mampu menghindari tindakan tersebut dengan membangun “armada gelap” kapal tanker minyak, dan juga dengan bantuan China dan India, ungkap peneliti di Carnegie Russia Eurasia Center, Alexandra Prokopenko, baru-baru ini.

Negara-negara UE menyetujui “penguatan mekanisme pembagian informasi” bagi kapal tanker yang dirancang untuk mengidentifikasi kapal-kapal yang terlibat dalam praktik-praktik seperti transfer minyak antar kapal di laut, kata pernyataan Dewan Eropa. [ns/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com