Trump Hadiri Sidang Perdata di New York Saat Kasusnya Hampir Selesai

Mantan Presiden Donald Trump kembali ke ruang sidang di New York pada Kamis (7/12) untuk sidang penipuan perdata yang sedang berlangsung, di mana tim pembelanya mencoba meyakinkan hakim, bahwa perusahaan keluarganya tidak secara curang menaikkan nilai propertinya untuk mendapatkan pembiayaan hutang yang lebih tinggi.

Saat keluar dari ruang sidang, calon presiden dari Partai Republik tahun 2024 itu menggunakan taktik yang lazim ia lakukan, dengan mengatakan bahwa jaksa agung negara bagian yang membawa kasus tersebut melakukan penipuan, bukan dirinya.

“Jaksa Agung melakukan penipuan. Anda baru saja melihatnya di atas sana. Dia penipu. Seluruh kasus ini adalah penipuan. Itu adalah campur tangan pemilu. Hal ini membuat saya tetap berada di sini dan tidak ada di Iowa dan New Hampshire,” ujar Trump.

Jaksa Agung New York Letitia James menuntut denda sebesar US$250 juta dan larangan bagi Trump melakukan bisnis real estat komersial.

Hakim yang mengawasi persidangan telah memutuskan bahwa Trump dan putra-putranya yang sudah dewasa, memanipulasi laporan keuangan untuk menipu bank dan perusahaan asuransi, agar memberikan persyaratan pinjaman dan asuransi yang menguntungkan.

Tim pembela Trump telah memanggil para bankir dan pihak lain yang melakukan bisnis dengan Trump Organization untuk bersaksi bahwa mereka tidak hanya mengandalkan penilaian Trump dalam memutuskan untuk meminjamkan uang kepada perusahaannya.

Pada Kamis, seorang profesor akuntansi dari Universitas New York, yang tidak bekerja untuk perusahaan Trump, bersaksi bahwa ia menemukan perusahaan tersebut telah membuat kesalahan akuntansi dalam salah satu penilaiannya. Namun dia mengatakan dia tidak melihat adanya bukti penipuan akuntansi.

“Dia sama sekali tidak menemukan penipuan, penipuan akuntansi, apa pun jenisnya. Ini adalah orang yang sangat dihormati. Saya tidak mengenalnya, tapi dia adalah saksi ahli, dan dia tidak menemukan penipuan apa pun,” tambah Trump.

Dalam kesaksiannya bulan lalu, Trump mengeluhkan perlakuan tidak adil dan mengakui bahwa dia terlibat dalam beberapa dokumen yang menjadi inti kasus penipuan tersebut.

Trump diperkirakan akan memberikan kesaksian lagi pada Senin (11/12) sebagai saksi pembelaan terakhir. [ns/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com