Tersisa Trump dan Haley, Pemilih Republik Kecewa

Donald Trump tidak lagi melancarkan kritik dan ejekan, seperti yang dia lakukan selama berbulan-bulan terhadap Ron DeSantis. Pada Minggu (21/1) malam, dia merayakan masuknya pesaing dari Partai Republik itu, sebagai pendukung terbarunya. DeSantis, yang merupakan gubernur Florida, mengakhiri kampanye kepresidenannya dan mendukung mantan presiden tersebut.

Bagi Trump, menyambut dukungan seseorang yang pernah mencoba untuk melawannya, sudah menjadi sebuah ritual yang lazim.

Dalam rapat umum pada Minggu (21/1) di New Hampshire, Trump memuji DeSantis tanpa memanggilnya “DeSantimonious” atau “DeSanctus”, yang mengakhiri persaingan paling sengit dalam kampanye Partai Republik pada 2024.

“Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ron dan mengucapkan selamat kepadanya karena telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Dia sangat ramah, dan dia mendukung saya. Saya menghargainya, dan saya juga berharap dapat bekerja sama dengan Ron,” kata Trump.

Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Gubernur Florida Ron DeSantis mengadakan pertemuan meja bundar kesiapsiagaan menghadapi COVID-19 dan badai di Belleair, Florida, 31 Juli 2020. (Foto: AFP)

Trump menggambarkan DeSantis sebagai “orang yang sangat hebat”.

Sebelumnya pada Minggu, DeSantis membuat pernyataan melalui video, bahwa dia akan mengakhiri kampanyenya dua hari sebelum pemilihan pendahuluan Partai Republik yang pertama, di New Hampshire.

Namun, terlepas dari kegembiraan Trump pada Minggu malam, pernyataan DeSantis bukanlah bentuk dukungan yang hangat.

“Jelas bagi saya bahwa mayoritas pemilih utama Partai Republik ingin memberi Donald Trump kesempatan lagi,” kata DeSantis, sambil memberikan senyuman yang dipaksakan tanpa menambah pujian untuk Trump.

Kandidat presiden dari Partai Republik, mantan Duta Besar PBB Nikki Haley berbicara dalam acara kampanye di Derry, New Hampshire, 21 Januari 2024. (Foto: AP)

Kandidat presiden dari Partai Republik, mantan Duta Besar PBB Nikki Haley berbicara dalam acara kampanye di Derry, New Hampshire, 21 Januari 2024. (Foto: AP)

Sementara itu, kandidat presiden AS dari Partai Republik, Nikki Haley, mengatakan pada Minggu bahwa dia belum berbicara dengan saingannya Ron DeSantis selama akhir pekan.

Pernyataan itu ia sampaikan saat berkampanye di Epping, New Hampshire, negara bagian yang akan mengadakan pemilihan pendahuluan pada Selasa (23/1).

“Saya belum berbicara dengan Gubernur DeSantis. Saya tidak tahu apa-apa tentang rencananya,” katanya kepada wartawan.

Komentar Haley muncul beberapa jam, sebelum Gubernur Florida DeSantis menghentikan kampanye kepresidenannya dari Partai Republik.

Keputusan tersebut menjadikan Trump dan mantan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, sebagai kandidat utama terakhir yang tersisa dalam pencalonan menjelang pemilihan pendahuluan di New Hampshire pada Selasa.

Situasi ini tidak cukup membahagiakan bagi pendukung Partai Republik.

Anggota DPR dari negara bagian New Hampshire, Bob Healey mengatakan pada Minggu, bahwa dia yakin pemilih Partai Republik di “tengah”, tidak akan memiliki perwakilan, setelah calon presiden Ron DeSantis menghentikan pencalonannya untuk Gedung Putih.

Hal itu dia sampaikan kepada jurnalis di Manchester, New Hampshire.

“Kita sekarang kita punya dua kandidat tersisa. Satu, yang sebenarnya merupakan bagian dari kelompok “rawa” yang didukung oleh semua “orang rawa”, Trump. Dan kemudian yang Anda miliki adalah orang yang didukung semua jutawan dan semua uangnya. Jadi kita, yang berada di tengah-tengah, tidak memiliki perwakilan lagi di Washington,” kata Healey.

Presiden Donald Trump berbicara dengan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley sebelum pertemuan Majelis Umum PBB di markas besar PBB, 18 September 2017. (Foto: AP)

Presiden Donald Trump berbicara dengan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley sebelum pertemuan Majelis Umum PBB di markas besar PBB, 18 September 2017. (Foto: AP)

“Orang rawa” atau swamp people yang disebut Healey, merujuk pada kelompok pendukung Trump, yang merupakan kelompok masyarakat marjinal dan kurang berpendidikan.

Sebelumnya, mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton pada Minggu mengatakan hasil pemilu AS “tidak mungkin diprediksi.”

Bolton mengatakan ada “sekelompok besar pemilih yang tidak menyukai salah satu kandidat,” dan menambahkan bahwa pemenang pemilu akan menjadi orang yang “kurang disukai” oleh kelompok tersebut.

“Kita sedang menuju pertandingan ulang 2020, terlepas dari semua ketidakpuasan itu, sepertinya apa yang akan terjadi dan yang terjadi saat ini, membuat hasil November tidak mungkin diprediksi,” kata dia.

Bolton juga mengatakan bahwa kemenangan Trump dalam pemilu “sepenuhnya mungkin terjadi” karena Biden “sangat tidak populer saat ini”.

“Orang-orang sejujurnya tidak berpikir dia punya kepercayaan diri untuk melewati masa jabatan empat tahun berikutnya. Dan saya pikir situasi itu, sangat disayangkan bagi Joe Biden, tetapi pada kenyataannya itu tidak akan menjadi lebih baik, seiring berjalannya waktu,” kata Bolton. [ns/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com