Terbukti Lakukan Penipuan dan Berbohong, DPR AS Pecat George Santos

Untuk keenam kalinya dalam sejarah, Dewan Perwakilan Rakyat AS memecat salah satu anggotanya. Mayoritas anggota Partai Republik bergabung dengan sebagian besar anggota minoritas Partai Demokrat pada Jumat pagi (1/12) sepakat untuk memberhentikan George Santos, anggota Partai Republik dari New York pada periode pertama jabatannya di DPR AS.

Komite Etika DPR AS baru-baru ini mengeluarkan laporan yang menemukan adanya bukti kuat bahwa Santos melanggar hukum. Penyelidik federal mendakwa Santos melakukan penipuan, pencucian uang, mencuri identitas donor kampanye, memalsukan laporan keuangan kampanye, dan banyak lagi pelanggaran lainnya.

Santos mengaku tidak bersalah atas 23 dakwaan federal yang dia hadapi. Dia mendapat sorotan dan cemoohan yang intens setelah terungkap bahwa dia telah merekayasa latar belakang pendidikan, karier, dan keluarganya.

Dengan ketukan palu, Ketua DPR Mike Johnson secara resmi mengumumkan 311 anggota DPR AS memberikan suara setuju bagi pemecatan Santos. Sementara 114 anggota parlemen dari anggota Partai Republik menolak pemecatannya, dan dua anggota Partai Demokrat lainnya memilih untuk mendukung suara terbanyak.

“Dua pertiga suara menyetujui, resolusi diadopsi,” kata Mike Johnson, Ketua DPR AS dari Partai Republik, kepada Kongres.

“Panitera DPR AS akan memberi tahu gubernur negara bagian New York tentang keputusan DPR ini. Berdasarkan klausul 5-D pasal 20, Ketua DPR mengumumkan kepada DPR perihal pengusiran pria dari New York, Tuan Santos, maka jumlah keseluruhan anggota DPR sekarang (berkurang) menjadi 434.”

Beberapa anggota DPR AS bertepuk tangan setelah peristiwa bersejarah itu.

Santos bergumam kepada seorang reporter “persetan dengan tempat ini,” ketika dia meninggalkan gedung DPR untuk terakhir kalinya.

“Seharusnya hal ini (pemecatan) tidak perlu terjadi,” kata Anthony D’Esposito, anggota DPR Partai Republik dari New York yang mendukung pemecatan Santos, ketika meninggalkan ruang sidang. “George Santos seharusnya berani bertanggung jawab. Dia mestinya mengundurkan diri.”

Anggota DPR Nick Lalota, yang juga anggota partai Republik New York, mengatakan kepada wartawan, “Sudah waktunya kita beralih dari George Santos.”

Santos telah menjadi bahan lelucon para komedian di seluruh Amerika Serikat. Dia memberikan mereka banyak ‘hal yang mereka anggap lucu’ setelah terungkap bahwa dia telah membuat banyak klaim liar dan ternyata tidak benar.

Klaimnya tersebut antara lain, mengaku sebagai bintang voli saat mahasiswa perguruan tinggi, pernah bekerja di bank investasi papan atas dan berhasil mengumpulkan kekayaan, serta ibunya pernah berada di gedung World Trade Center saat terjadi serangan teror 9/11. Santos juga mengaku sebagai keturunan penyintas Holocaust, kebohongan lain yang membuat marah para pemilih di distrik yang 20 persen penduduknya Yahudi.

Santos kemudian mencoba untuk menjelaskan kebohongan tersebut, dengan menjelaskan bahwa dia adalah “Jew-ish,” bukan seorang yang benar-benar asli Yahudi.

Hal itu hanya menambah rasa jijik (para konstituennya) dan memperkuat seruan agar dia ‘mundur dari jabatannya’.

“Ini adalah kemenangan besar bagi warga Distrik 3 New York yang akhirnya terbebas dari kebohongan anggota parlemen yang menipu sistem untuk mengisi kantong dan lemarinya,” kata Rahna Epting, direktur eksekutif kelompok aksi politik progresif MoveOn, yang telah mendorong agar anggota kongres mengundurkan diri atau dikeluarkan.

Dengan tersingkirnya Santos dari Kongres, Partai Republik mempertahankan mayoritas tipis empat kursi di DPR dengan pemilihan umum berikutnya yang akan berlangsung 11 bulan lagi. Pemilihan khusus diperkirakan akan diadakan awal tahun depan di Distrik 3-New York untuk menggantikan posisi Santos.

Partai Demokrat bertekad untuk mengalihkan kursi Kongres distrik ke-3 di New York tersebut ke pihak mereka. Presiden Joe Biden pada tahun 2020 memenangkan pemilihan di distrik tersebut dengan selisih lebih dari 10 persen. [es/pp]

Sumber: www.voaindonesia.com