Tak Satu Negara Pun Berani Bicara Lagi soal Normalisasi Hubungan dengan Israel

Presiden Iran Ebrahim Raisi hari Minggu (14/1) mempertanyakan apakah masih ada negara yang akan membahas “normalisasi” dengan Israel karena perang Israel-Hamas.

“Apakah ada orang di seluruh dunia yang berani berbicara tentang normalisasi (dengan Israel) lagi? Negara-negara yang melakukan normalisasi hubungan (dengan Israel) dapatkah mereka menegakkan kepala di depan rakyat atau umat mereka sendiri,” kata Raisi dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh 100 ulama dari seluruh negara Muslim, sebagaimana dilaporkan media-media Iran.

Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken minggu lalu mengatakan Arab Saudi tetap tertarik untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel “namun mengharuskan berakhirnya konflik di Gaza, dan juga jelas mengharuskan adanya jalur praktis menuju terbentuknya negara Palestina.”

Israel menolak untuk menyetujui gencatan senjata, sementara Amerika tetap menyerukan “jeda kemanusiaan” sementara untuk memungkinkan bantuan masuk ke Gaza, dan agar orang-orang dapat pergi ke tempat yang aman.

Perjanjian Abraham Bantu Normalisasi Hubungan Beberapa Negara Arab dengan Israel

Sebelum serangan berdarah Hamas ke bagian selatan Israel pada 7 Oktober lalu, Israel dan Arab Saudi sudah hampir mencapai perjanjian normalisasi hubungan yang bersejarah. Beberapa negara Arab lainnya telah lebih dahulu menormalisasi hubungan mereka dengan Israel.

Apa yang disebut sebagai dorongan normalisasi, yang dimulai di bawah pemerintahan mantan Presiden Donald Trump dan disebut sebagai “Abraham Accord” atau “Perjanjian Abraham,” merupakan upaya ambisius untuk membentuk kembali kawasan dan meningkatkan posisi Israel dengan cara yang bersejarah.

Raisi melanjutkan pernyataannya dengan memuji Yaman karena “membela Palestina yang tertindas.” “Kita harus dengan sepenuh hati menghargai dan memuji Yaman, yang dengan berani berdiri melawan rezim Zionis,” tegasnya.

Kelompok pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran telah menyerang sedikitnya 26 kapal di Laut Merah sejak 19 November lalu. Serangan-serangan itu memprovokasi tanggapan pembalasan dari Amerika dan Inggris.

Houthi mengatakan serangan itu ditujukan untuk menghentikan serangan Israel di Jalur Gaza.

Namun kini semakin banyak kapal yang disasar yang tidak memiliki hubungan dengan Israel, dan mengancam justru jalur perdagangan penting yang menghubungkan Asia dan Timur Tengah dengan Eropa. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com