Saudi Tidak Akan Akui Israel Bila Tidak Ada Kemungkinan Pembentukan Negara Palestina

Menteri Luar Negeri Arab Saudi mengatakan kerajaannya tidak akan menormalisasi hubungan dengan Israel atau berkontribusi pada rekonstruksi Gaza tanpa ada jalur yang kredibel menuju terbentuknya negara Palestina.

Pernyataan Pangeran Faisal bin Farhan dalam sebuah wawancara dengan CNN yang disiarkan Minggu malam (21/1) itu adalah pernyataan paling langsung dari para pejabat Saudi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berada di bawah tekanan domestik yang meningkat terkait kemajuan perang dan penderitaan para sandera Israel, telah menolak status negara Palestina dan malah membeberkan rencana kontrol militer Israel atas Gaza tanpa batas waktu.

Perselisihan mengenai masa depan Gaza karena perang masih berkecamuk dan tidak ada tanda-tanda akan berakhir, mempertemukan Amerika Serikat dan sekutu-sekutu Arabnya melawan Israel dan menimbulkan hambatan besar terhadap rencana pemerintahan pascaperang atau rekonstruksi wilayah kantong pesisir miskin yang menjadi wilayah kediaman 2,3 juta warga Palestina.

Sebelum serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober yang memicu perang, AS telah berusaha menjadi perantara perjanjian penting di mana Arab Saudi akan menormalisasi hubungan dengan Israel dengan imbalan jaminan keamanan AS, bantuan dalam membangun program nuklir sipil di kerajaan tersebut, dan kemajuan dalam menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Pada bulan September, Netanyahu mengatakan Israel berada di “puncak” kesepakatan tersebut, yang menurutnya akan mengubah Timur Tengah.

Dalam wawancara dalam program acara GPS CNN, pembawa acara Fareed Zakaria, bertanya: “Apakah Anda mengatakan dengan tegas bahwa jika tidak ada jalan yang kredibel dan tidak dapat diubah menuju negara Palestina, tidak akan ada normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel?”

“Itulah satu-satunya cara kami mewujudkan itu,” jawab Pangeran Faisal. “Jadi iya.”

Sebelumnya dalam wawancara tersebut, ketika ditanya apakah Arab Saudi yang kaya minyak akan membiayai rekonstruksi di Gaza, di mana serangan Israel telah menyebabkan kehancuran yang tidak pernah terjadi sebelumnya,Pangeran Faisal memberikan jawaban serupa.

Palestina menginginkan negara yang mencakup Gaza, Tepi Barat yang diduduki Israel, dan YerusalemTimur yang dianeksasi, wilayah yang direbut Israel dalam perang Timur Tengah tahun 1967.

Israel memandang seluruh Yerusalem sebagai ibu kotanya dan Tepi Barat sebagai pusat sejarah dan alkitabiah bagi orang-orang Yahudi. Mereka telah membangun sejumlah permukiman di kedua wilayah yang kini menjadi rumah bagi ratusan ribu pemukim Yahudi. Perundingan perdamaian putaran terakhir gagal hampir 15 tahun lalu. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com