Salman Rushdie Mengaku Sulit Menulis Setelah Ditikam Tahun Lalu

Penulis Inggris Salman Rushdie mengatakan ia merasa “sangat sulit” menulis setelah ia ditikam tahun lalu. Ia mengemukakan demikian dalam wawancara yang dipublikasikan hari Senin (6/2) menjelang rilis novel terbarunya, Victory City.

“Kisah epik” Rushdie itu mengenai perempuan dari abad ke-14 yang menantang dunia patriarki karena memerintah sebuah kota. Novel itu mulai dijual di AS pada hari Selasa (7/2).

FILE: Penulis Salman Rushdie dalam Festival Heartland di Kvaerndrup, Denmark, 2 JUni 2018. (Carsten Bundgaard/Ritzau Scanpix/via REUTERS)

Rushdie mengatakan serangan itu telah melukai jiwanya. Penulis berusia 75 tahun itu mengatakan kepada majalah the New Yorker dalam wawancara pertamanya sejak penikaman 12 Agustus lalu di sebuah konferensi di Chautauqua, New York, ia merasa sulit untuk menulis dan bahwa ia belum bisa melupakan serangan itu.

Novelis ini, yang meraih berbagai penghargaan dan menjadi warga Amerika dengan dinaturalisasi, telah tinggal di New York selama 20 tahun . Menurut agennya, Rushdie kehilangan penglihatan pada satu mata dan kemampuan menggunakan satu tangannya.

Rushdie hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun setelah pemimpin agung pertama Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini memerintahkan agar ia dibunuh karena novelnya, Ayat-Ayat Setan, yang diterbitkan pada tahun 1988 dianggap menghina Islam. [uh/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com