Rusia Tetapkan Pemilihan Presiden pada 17 Maret

Rusia, Kamis (7/12), menetapkan 17 Maret sebagai tanggal pemilihan presiden yang diperkirakan akan menjadi hari yang menentukan bagi Vladimir Putin, yang telah membungkam oposisi selama lebih dari dua dekade berkuasa.

Dalam pertemuan yang disiarkan langsung di televisi Rusia, majelis tinggi parlemen dengan suara bulat menyetujui tanggal pemungutan suara itu.
Keputusan tersebut “secara praktis berarti kampanye presiden dimulai”, menurut ketua majelis, Valentina Matvienko.

Putin, mantan agen KGB yang berkuasa di Rusia sebagai presiden atau perdana menteri sejak tahun 1999, belum secara resmi mengumumkan apakah ia akan mencalonkan diri dalam pemungutan suara untuk masa jabatan enam tahun berikutnya.

Pria berusia 71 tahun itu akan mengadakan konferensi pers akhir tahun minggu depan, di mana ia dapat mengumumkan pencalonannya.

FILE – Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan sambutan di sebuah pameran di pusat pendidikan Mashuk di Pyatigorsk, wilayah Stavropol, Rusia, 5 Desember 2023. (Sergei Karpukhin, Sputnik, Foto Kolam Kremlin via AP, File)

Ini akan menjadi pertama kalinya ia mengadakan konferensi pers sejak dia memerintahkan pasukan Rusia masuk ke Ukraina pada Februari 2022.
Rusia sejak itu menyatakan telah mencaplok wilayah Lugansk, Donetsk, Kherson, dan Zaporizhzhia di Ukraina meskipun pasukan Rusia tidak sepenuhnya mengendalikan wilayah tersebut.

Pemungutan suara juga direncanakan di wilayah tersebut. “Meskipun keadaan eksternal sulit dan ada upaya musuh untuk melemahkan Rusia, kami tetap setia pada nilai-nilai konstitusi utama kami,” kata Matvienko.

Ia menambahkan bahwa masyarakat Rusia “bersatu tidak seperti sebelumnya” di sekitar pemerintahan Putin “dan tugas negara adalah menunjukkan bahwa pemerintah layak mendapatkan kepercayaan ini dan mencegah provokasi apa pun”.

Jika Putin kembali terpilih sebagai presiden, ini akan menjadi masa jabatan kelimanya. Setelah reformasi konstitusi pada tahun 2020, ia dapat tetap menjabat sebagai presiden hingga tahun 2036.

Sejak melancarkan perang di Ukraina, Putin telah menjadi orang yang disingkirkan di antara para pemimpin Barat dan negaranya telah terkena sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun pemimpin Kremlin itu menjadi semakin percaya diri dalam beberapa pekan terakhir karena dukungan Barat terhadap Ukraina melemah dan serangan balasan Ukraina sebagian besar gagal menembus garis pertahanan Rusia.

Perekonomian Rusia juga terbukti tangguh terhadap sanksi dan tumbuh kembali seiring Rusia mengarahkan kembali ekspor energinya ke klien-kliennya di Asia.

Setelah dua masa jabatan presiden pertamanya, Putin sempat menjadi perdana menteri antara tahun 2008 dan 2012, sementara anak didiknya Dmitry Medvedev menjadi presiden.

Perubahan ini dilakukan untuk menghindari larangan konstitusional terhadap lebih dari dua masa jabatan presiden berturut-turut.
Selama masa pemerintahannya yang panjang, Putin telah membungkam perbedaan pendapat dan mengarahkan Rusia ke arah otoritarianisme dan nasionalisme.

Sejak dimulainya perang di Ukraina, Rusia telah memenjarakan para penentang perang dengan undang-undang yang lebih ketat yang melarang kritik terhadap militer. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com