Rusia Serang Ukraina dengan 35 Drone

Ukraina, Selasa (30/1) mengatakan semalam militer Rusia menyerang dengan 35 drone dan dua peluru kendali yang menarget beberapa wilayah di negara tersebut.

Angkatan udara Ukraina mengatakan pertahanan udara menghancurkan 15 drone, termasuk pencegatan di wilayah Mykolaiv, Sumy, Cherkasy, Dnipropetrovsk, Kharkiv, Kherson dan Kyiv.

Angkatan Udara mengatakan sebagian dari serangan Rusia menarget infrastruktur sektor bahan bakar dan energi.

Rusia, Senin (29/1) mengatakan pertahanan udaranya menggagalkan serangan 21 drone Ukraina.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa militer mencegat atau menghancurkan drone Ukraina di Semenanjung Krimea yang dianeksasi Rusia, serta wilayah Rusia di Belgorod, Bryansk, Kaluga dan Tula.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, Senin (29/1) memperingatkan bahwa perang defensif Ukraina melawan Rusia akan berisiko tanpa adanya putaran bantuan baru yang disetujui oleh Kongres. “Tanpa hal ini, sederhananya, segala sesuatu yang telah dicapai Ukraina dan yang telah kami bantu untuk mencapainya akan berada dalam bahaya,” kata Blinken pada jumpa pers bersama Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg di Washington.

Stoltenberg menyatakan keyakinannya bahwa AS akan terus mendukung Ukraina, dan mengatakan bahwa memastikan Rusia tidak menang di Ukraina adalah kepentingan AS.

Stoltenberg juga mengatakan bahwa membantu Ukraina adalah upaya bersama dengan sekutu NATO dan hal itu tidak dipandang sebagai amal tetapi sebagai “investasi untuk keamanan kita sendiri.”

Aliansi Rusia-Belarus

Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin (30/1) bertemu dengan rekannya dari Belarus, Alexander Lukashenko, untuk membahas perluasan aliansi kedua negara. Rusia telah menempatkan beberapa senjata nuklir di wilayah negara tetangganya itu.

Putin menekankan “kemitraan strategis” kedua negara sebagai bagian dari perjanjian kerja sama selama 25 tahun yang melibatkan hubungan politik, ekonomi dan militer antara kedua negara.

“Penting bahwa di tengah tekanan asing yang belum pernah terjadi sebelumnya, Rusia dan Belarus harus bekerja sama secara erat di arena internasional dan terus memberikan dukungan satu sama lain sebagai sekutu sejati,” kata Putin pada awal pembicaraan di St. Petersburg yang melibatkan para pejabat senior dari kedua negara.

Lukashenko mengandalkan subsidi dan dukungan politik Rusia untuk memerintah negara bekas Soviet itu dengan tangan besi selama hampir tiga dekade. Dukungan Moskow membantu Lukashenko tetap bertahan selama berbulan-bulan dari protes besar atas hasil pemilihan yang memenangkan dirinya kembali dirinya tahun 2020. Pihak oposisi dan negara-negara Barat menganggap pemilu tersebut dicurangi.

Lukashenko mengizinkan Rusia menggunakan wilayah Belarus untuk mengirim pasukan ke Ukraina pada Februari 2022. [lt/ab]

Sebagian bahan untuk laporan ini berasal dari The Associated Press, Agence France-Presse dan Reuters.

Sumber: www.voaindonesia.com