Protes Massal Guncang Jordan, Sekutu Utama AS di Timur Tengah

Protes sengit atas pemboman sebuah rumah sakit di Gaza berlanjut pada hari Kamis (19/10) di jalan-jalan Yordania, sekutu utama AS di Timur Tengah, yang juga memiliki populasi besar keturunan Palestina. Para analis mengatakan pertemuan puncak di Yordania antara Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin Arab, yang kini dibatalkan, bisa membantu memperkuat koridor kemanusiaan untuk Gaza.

Curtis Ryan, spesialis Timur Tengah di Appalachian State University di AS, mengatakan kepada VOA bahwa tiga hari berkabung publik di Yordania diumumkan setelah ledakan di Rumah Sakit Ahli Arab di Gaza yang menewaskan ratusan orang dan memicu protes besar-besaran yang terjadi di Yordania, membuat pertemuan puncak dengan Presiden AS Joe Biden sulit dilangsungkan.

“Sangat disayangkan KTT ini tidak terlaksana padahal sangat mendesak untuk dilakukan karena pertemuan ini hendak mempertemukan Mesir, Yordania, Amerika Serikat, dan Otoritas Palestina. KTT ini bukan hanya untuk koridor kemanusiaan, tetapi juga untuk pesan yang seharusnya didapat Biden dari tiga pihak lainnya dan khususnya dari pihak Yordania seharusnya adalah kata-kata: gencatan senjata. Mereka juga khawatir akan besarnya protes yang terjadi,” jelasnya.

Polisi antihuru-hara Yordania memukul mundur ribuan pengunjuk rasa pada hari Rabu di dekat Kedutaan Besar Israel di ibu kota, Amman, di mana beberapa polisi terluka dalam bentrokan dengan mereka yang membakar properti di dekatnya.

“Tidak ada kedutaan Zionis di tanah Arab,” teriak mereka. Protes massal yang dilakukan warga Yordania yang marah berlanjut di seluruh negeri.

Ryan memperkirakan serangan darat Israel di Gaza akan memicu lebih banyak protes. “Semua orang peduli pada masalah Palestina. Ini adalah isu mobilisasi yang paling lama ada dalam politik Yordania, tidak seperti isu lainnya. Apa yang terjadi di lapangan terhadap warga sipil Palestina, membuat semua orang prihatin. Itu sebabnya kita melihat protes dalam skala besar. Keadaan akan menjadi jauh lebih buruk jika invasi darat benar-benar terjadi,” jelasnya.

Ryan dan analis lain mengatakan bahkan tanpa adanya ledakan di rumah sakit tersebut yang tanggung jawabnya disangkal baik oleh Israel maupun militan Palestina, warga Yordania sangat marah atas perlakuan terhadap warga Palestina oleh pemerintah sayap kanan Israel dan pemukim Yahudi, serta pemboman besar-besaran Israel di Gaza.

Bruce Riedel, peneliti senior emeritus di Brookings Institution di Washington, mengatakan kepada VOA bahwa perjanjian perdamaian Yordania dengan Israel pada tahun 1994 tidak populer dan meskipun beberapa partai politik di kerajaan itu menyerukan pemutusan hubungan, Raja Abdullah menolak seruan tersebut dan terus mendesak dan berupaya mencapai solusi dua negara bagi krisis Israel-Palestina.

“Tetapi krisis ini sekarang menjadi lebih luas dan belum pernah terjadi dalam hal cakupan dan intensitasnya sehingga akan sulit baginya untuk tidak mendengarkan seruan perubahan status Yordania dengan Israel. Masalahnya, raja memahami dengan baik, jika dia mengubah statusnya dengan Israel, itu dapat mempengaruhi hubungan bilateral dengan Amerika. Bantuan Amerika ke Yordania, yang harus disetujui oleh Kongres, sangat penting bagi perekonomian Yordania untuk menjaga stabilitas di negara tersebut,” komentarnya.

Para analis melihat Yordania sebagai sekutu utama militer AS yang berperang melawan ekstremis militan Muslim dan kekuatan yang menstabilkan wilayah yang bergejolak. Riedel menyatakan keprihatinannya mengenai masa depan Gaza.

“Siapa yang akan memerintah Gaza setelah perang usai? Israel mengatakan, tidak boleh Hamas; lalu siapa? Yang pasti bukan Otoritas Palestina. Mesir tidak ingin mengambil alih Gaza. Kita menghadapi teka-teki nyata di sini. Siapa yang akan menegakkan hukum dan ketertiban serta menghormati supremasi hukum dan hak asasi manusia di Gaza ketika perang ini berakhir?,” tandasnya.

Dengan begitu banyak pihak yang terlibat dan begitu banyak hal yang dipertaruhkan bagi masing-masing pihak, para analis menyatakan kekhawatiran mereka bahwa konflik Israel-Hamas kemungkinan akan meluas di Timur Tengah. [lt/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com