Presiden Turki Bertekad Perluas Operasi Terhadap Kelompok Kurdi di Suriah dan Irak

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa (17/1) bertekad akan memperluas operasi militer terhadap kelompok-kelompok yang terkait dengan militan Kurdi di negara tetangganya, Irak dan Suriah. Ini dikemukakannya beberapa hari setelah serangan terhadap sebuah markas militer Turki di Irak menewaskan sembilan tentara Turki.

Pesawat-pesawat tempur dan drone Turki telah melancarkan serangan udara terhadap berbagai target di Suriah dan Irak yang diyakini berafiliasi dengan kelompok terlarang Partai Pekerja Kurdistan (PKK), sejak para penyerang berupaya menyusup ke markas militer di wilayah semiotonom Kurdi di Irak Utara pada hari Jumat.

Lima tentara tewas dalam serangan itu sedangkan empat lainnya tewas kemudian karena luka parah.

Dalam pidato yang ditayangkan televisi setelah rapat Kabinet, Erdogan mengatakan, “Di Suriah, mulai dari Tel Rifat hingga Ayn al Arab, dari Hasakah hingga Manbij, kita tidak akan berhenti hingga kita hancurkan semua sarang teroris yang didirikan dengan niat jahat di sepanjang jalur ini.”

Petugas pemadam kebakaran Kurdi Suriah memadamkan api di pembangkit listrik di Qamishli yang dilaporkan menjadi sasaran drone Turki pada 15 Januari 2024. (Foto: AFP)

Sebelumnya ia mengatakan, jet-jet Turki telah menghantam 114 sasaran di Suriah dan Irak dalam operasi yang dilancarkan dalam lima hari terakhir.

Selanjutnya 60 infrastruktur dan fasilitas dihancurkan dalam operasi terpisah oleh dinas intelijen Turki, kata Erdogan.

Erdogan mengatakan Turki bertekad untuk melenyapkan ancaman dari militan Kurdi di Irak dan Suriah.

Belum jelas apakah Ankara, yang telah melancarkan serangan darat pada masa lalu, sedang mempertimbangkan serangan darat baru.

Pada hari Senin, otoritas pimpinan Kurdi mengatakan penembakan dan serangan udara Turki telah menargetkan puluhan fasilitas infrastruktur di Suriah Timur Laut selama beberapa hari. Serangan-serangan tersebut mencederai sedikitnya 10 orang dan memutus pasokan listrik dan air di daerah yang luas yang dikuasai oleh kelompok dukungan AS di negara yang dikoyak perang tersebut.

PKK, yang mempertahankan markas mereka di Irak Utara, dianggap sebagai organisasi teror oleh sekutu-sekutu Barat Turki, termasuk AS. Puluhan ribu orang telah tewas sejak dimulainya konflik pada 1984.

Turki juga menganggap kelompok Kurdi Suriah sebagai organisasi teroris tetapi AS tidak sependapat dengan status tersebut dan menganggap mereka sebagai sekutu dalam perang melawan ISIS di Suriah. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com