Presiden Palestina Bertemu Raja Yordania Abdullah di Amman

Presiden Palestina Mahmoud Abbas hari Kamis (12/10) bertemu dengan Raja Yordania Abdullah II di Amman, di tengah pemboman yang tak henti-hentinya terhadap Gaza oleh Israel menyusul serangan Hamas pada akhir pekan lalu. Tanpa memberikan tanggal pasti, para pejabat Kremlin juga telah mengumumkan kunjungan Abbas ke Rusia dalam beberapa waktu mendatang.

Raja Abdullah mengatakan bahwa Yordania akan memberikan bantuan mendesak ke Jalur Gaza.

Abbas menegaskan kembali pentingnya memastikan bahwa Israel menghormati status sejarah dan hukum di Al-Quds Al-Sharif (Yerusalem), tambah pernyataan itu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan para pejabat di Israel pada hari Kamis selagi dia melakukan kunjungan sebagai bentuk dukungan menyusul serangan Hamas yang menewaskan sedikitnya 1.200 orang.

Blinken mengatakan kepada wartawan ketika dia meninggalkan Washington bahwa Amerika Serikat telah mengirimkan bantuan militer ke Israel dan akan memastikan sekutunya tersebut memiliki apa yang dibutuhkan untuk mempertahankan diri.

“Kami bersedia dan siap membela rakyat Israel. Kami mendukung mereka hari ini. Kami akan mendukungnya besok. Kami akan mendukung mereka setiap hari. Kami berdiri teguh melawan terorisme. Kami telah melihat tindakan yang hampir tidak terlukiskan yang dilakukan oleh Hamas terhadap pria, wanita dan anak-anak Israel. Setiap hari kami belajar lebih banyak dan ini sungguh memilukan. Sejak ISIS kami belum pernah melihat kebejatan seperti ini, dan kami akan terus menentangnya dengan tegas,” kata Blinken.

Blinken mengatakan ada sejumlah warga Amerika yang masih belum ditemukan setelah serangan hari Sabtu dan upaya sedang dilakukan untuk mengidentifikasi di mana mereka berada dan menjamin pembebasan mereka jika mereka termasuk di antara yang disandera oleh Hamas.

Setelah Israel, Blinken mengatakan dia akan menuju Yordania untuk bertemu dengan Raja Abdullah dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, sebelum melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan para pemimpin di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Qatar.

Pada sisi lain, Rusia pada umumnya tetap diam terhadap pecahnya permusuhan antara pasukan Israel dan Hamas, namun Kremlin minggu ini memberikan tanda-tanda bahwa mereka mempertimbangkan peran – dan hubungannya – dengan Israel, Hamas, dan Iran. Tanpa memberikan tanggal pasti, para pejabat Kremlin telah mengumumkan rencana kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas ke Rusia.

Hanya dua hari setelah militan Hamas melancarkan serangan terhadap Israel, Sekretaris Jenderal Liga Arab Ahmed Aboul-Gheit diterima di Moskow oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, yang mengulangi resep Rusia untuk perdamaian abadi antara Israel dan Palestina.

“Hanya ada satu penyelesaian masalah Palestina, yaitu yang diadopsi di PBB. Dua negara: Israel dan Palestina,” ujar Lavrov.

Rusia telah lama berupaya mencapai keseimbangan dalam hubungannya dengan Israel dan para pemimpin Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Jalinan hubungan itu termasuk dengan para pemimpin Hamas yang didukung Iran, yang dijamu oleh Menteri Luar Negeri Rusia di Moskow pada September 2022, dengan kesadaran penuh bahwa itu akan memperburuk hubungan dengan Israel.

Setelah diam beberapa lama terkait pecahnya pertempuran terbaru antara Israel dan Hamas, Presiden Vladimir Putin tidak melewatkan kesempatan untuk menyalahkan Washington atas pertumpahan darah yang terjadi saat ini.

“Ini adalah contoh nyata kegagalan kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah, yang mencoba memonopoli solusi, namun sayangnya tidak peduli untuk menemukan kompromi yang dapat diterima oleh kedua pihak,” kata Putin.

Dengan invasi Rusia di Ukraina, permusuhan baru di Timur Tengah menimbulkan pertanyaan baru tidak hanya bagi Kremlin, namun juga bagi prospek perdamaian global. [lt/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com