Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi Umumkan Pencapresannya Kembali, Oposisi Laporkan Hambatan

Presiden Mesir Abdel-Fattah el-Sissi, pada Senin (2/10), membenarkan bahwa dirinya akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga dalam pemilu pada Desember mendatang, ketika partai-partai oposisi mengeluhkan hambatan yang ditemui orang-orang yang mencoba mendaftarkan dukungan bagi kandidat lain.

“Sama seperti ketika saya menanggapi seruan rakyat Mesir sebelumnya, hari ini saya kembali menanggapi seruan mereka,” kata el-Sissi dalam pidato penutup untuk sebuah acara yang mempromosikan sejumlah kebijakannya, yang digelar di ibu kota baru yang sedang dibangun di gurun pasir di luar Kairo.

“Kita berada di puncak peralihan menuju republik kita yang baru, yang berusaha melengkapi proses kelangsungan hidup negara dan membangunnya kembali di atas fondasi modernitas dan demokrasi,” ungkapnya.

El-Sissi, mantan panglima militer yang telah menjabat presiden sejak 2014, sebelumnya sudah diperkirakan akan kembali mencalonkan diri dan memenangkan masa jabatan ketiga, setelah amandemen konstitusi empat tahun yang lalu memungkinkan ia untuk tetap menjabat hingga tahun 2030.

Beberapa minggu terakhir, para pendukungnya berkampanye dengan menggunakan papan reklame dan pesan-pesan terbuka untuk mendesaknya agar mencalonkan diri dalam pemilu 10-12 Desember mendatang, sementara pihak oposisi yang terpecah-pecah mengaku menerima tekanan.

Tim kampanye Ahmed al-Tantawi, mantan anggota parlemen dan calon penantang el-Sissi yang paling menonjol, mengeluh bahwa warga dihambat saat mencoba mendaftarkan dukungan mereka terhadap pencalonannya.

Banyak di antara mereka yang mendatangi kantor-kantor notaris untuk mendaftarkan dukungan baginya diberitahu bahwa sistemnya sedang tidak berfungsi dan diminta untuk kembali lagi atau mendaftar di tempat lain, ungkap Mohamed Abol Deyar, manajer kampanye Tantawi, kepada Reuters. Beberapa bahkan menghadapi pelecehan, serangan atau penganiayaan, ujarnya.

Gerakan Demokrasi Sipil, yang merupakan gabungan beberapa partai oposisi kecil, juga mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (1/10) bahwa telah terjadi beberapa pelanggaran terhadap warga yang mencoba mencalonkan kandidat untuk melawan el-Sissi.

Otoritas Pemilu Nasional Mesir mengaku sedang menyelidiki keluhan-keluhan tersebut dan menyebut tuduhan itu tidak berdasar. Calon kandidat memerlukan 25.000 tanda tangan masyarakat atau dukungan dari 20 anggota parlemen yang sangat pro-el-Sissi untuk bisa mencalonkan diri.

El-Sissi berkuasa setelah memimpin penggulingan Mohamed Mursi dari Ikhwanul Muslimin, yang terpilih secara demokratis pada tahun 2013. Ia diumumkan sebagai sebagai pemenang pemilu presiden pada 2014 dan 2018 dengan 97% suara.

Pemerintahannya ditandai dengan penindakan pihak oposisi, di mana para aktivis mengatakan puluhan ribu orang dipenjara. Ikhwanul Muslimin, yang secara historis merupakan kekuatan oposisi terkuat di Mesir, telah dilarang dan para pemimpinnya dipenjara atau diasingkan.

El-Sissi dan para pendukungnya mengatakan, langkah-langkah tersebut diperlukan untuk menstabilkan Mesir setelah kekacauan yang disebabkan oleh pemberontakan rakyat “Arab Spring” pada tahun 2011.

Pemilu Desember mendatang dilakukan ketika Mesir sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi, yang telah menyebabkan inflasi yang mencapai rekor dan kelangkaan kronis mata uang asing. [rd/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com