Presiden Israel Menentang Solusi Dua Negara

Presiden Israel bergabung dengan sejumlah pejabat Israel lainnya dalam menentang solusi dua negara setelah perang di Gaza.

Dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press pada Kamis (14/12), Isaac Herzog mengatakan saat ini bukan waktunya berbicara tentang pembentukan negara merdeka sementara penderitaan Israel akibat serangan Hamas pada 7 Oktober masih terasa.

“Yang ingin saya dorong adalah agar kita tidak sekadar mengatakan solusi dua negara. Mengapa? Karena ada bab emosional di sini yang harus ditangani. Bangsa saya sedang berduka. Bangsa saya sedang trauma,” kata Herzog. “Untuk kembali ke gagasan membagi tanah, menegosiasikan perdamaian atau berbicara dengan Palestina, dan sebagainya, pertama-tama kita harus menghadapi trauma emosional yang kami alami serta kebutuhan dan tuntutan akan keamanan sepenuhnya bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.

Herzog berbicara sehari sebelum bertemu dengan penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Jake Sullivan.

Pemerintahan Presiden Joe Biden mengatakan bahwa setelah perang, upaya memulai kembali perundingan untuk mendirikan negara Palestina berdampingan dengan Israel di bawah kepemimpinan Otoritas Palestina harus diperbarui. Herzog, yang posisinya sebagian besar bersifat seremonial, adalah mantan pemimpin Partai Buruh Israel, yang menganjurkan solusi dua negara dengan Palestina.

Namun setelah serangan Hamas pada 7 Oktober yang memicu perang Israel di Gaza, para pemimpin Israel menentang upaya memulai kembali perundingan perdamaian setelah perang dan mengesampingkan peran Otoritas Palestina yang diakui secara internasional.

Sekitar 1.200 orang tewas dalam serangan 7 Oktober dan 240 lainnya disandera.

Israel segera menyatakan perang, melakukan serangan udara dan serangan darat selama berminggu-minggu yang menewaskan lebih dari 18.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas.

Amerika Serikat meminta Israel memperkirakan kapan perang akan diakhiri. Herzog memperkirakan kampanye Israel di Gaza utara yang terdampak paling parah akan selesai dalam beberapa minggu. Namun ia menolak mengatakan kapan perang akan berakhir.

Israel menolak seruan internasional untuk melakukan gencatan senjata, dengan mengatakan pihaknya akan terus menyerang sampai mereka membongkar kemampuan militer dan politik Hamas. Ia menambahkan bahwa akhir kampanye di wilayah selatan hanya akan terjadi ketika Hamas “sepenuhnya diberantas.” [ka/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com