Perang Israel-Hamas Masuki Hari ke-100

Sudah 100 hari berlalu sejak para pejuang Hamas melancarkan serangan ke Israel, yang menewaskan 1.200 orang. Hamas juga menculik sekitar 240 orang lainnya. Dari jumlah itu sedikitnya 105 sandera telah dibebaskan, tetapi banyak lainnya yang masih ditawan.

Keluarga salah seorang sandera, Jimmy Miller, menjabarkan betapa ia “ditahan tanpa diberi makan, lampu, air minum; dengan kondisi yang tidak manusiawi.”

Operasi militer dari darat dan udara yang dilakukan Israel di Gaza bertujuan untuk menghancurkan kelompok militan itu. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola oleh Hamas, mengatakan hingga hari Minggu (14/1) sedikitnya 24.000 warga Palestina meninggal, sebagian besar adalah perempuan dan anak2. Lebih dari 85% warga Gaza yang berjumlah 2,3 juta jiwa itu telah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Heba Bakir yang sedang hamil enam bulan mengatakan, “Saya akan melahirkan, dan saya sangat khawatir dengan perkiraan waktu kelahiran bayi ini. Di mana saya akan melahirkannya? Bagaimana mereka dapat membantu saya ketika melahirkan nanti?”

Dari Vatikan, Paus Fransiskus kembali menyampaikan seruannya demi perdamaian.

“Perang saja sudah merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Orang butuh perdamaian. Dunia butuh perdamaian.”

Demonstrasi memprotes perang berkelanjutan Israel-Hamas berlangsung di banyak kota di dunia pada hari Sabtu lalu (13/1), antara lain Washington DC, Roma, London, dan Jakarta. Tetapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan tidak akan tunduk pada tuntutan publik.

“Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan Israel untuk memulihkan keamanan di selatan dan utara. Tidak Den Haag, tidak Poros Kejahatan dan tidak siapa pun,” tandasnya.

Seorang politisi senior Hamas, Osama Hamdan, mengatakan mereka merawat para sandera dengan baik. Ia merujuk pada perjanjian yang menurut Israel dicapai dengan Qatar, untuk mengantarkan obat-obatan bagi para sandera.

“Kami sangat ingin mengobati mereka, tetapi sejauh ini kami mengobati mereka dengan obat apa pun yang tersedia dan bisa dijangkau orang-orang kami. Kami berterima kasih kepada saudara-saudara kami di Qatar yang telah berinisiatif mengirimkan obat-obatan.”

Dengan tanpa isyarat akan segera berakhirnya konflik ini, para demonstran di Tel Aviv berdiri dalam keheningan selama 100 detik pada hari Minggu (14/1) mewakili jumlah hari para sandera telah ditawan. Penghentian aktivitas sipil dan komersial juga diumumkan oleh federasi serikat buruh Israel, menandai penghentian perang. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com