Penikaman Fatal Wisatawan Jerman di Paris Picu Keprihatinan

Noda darah di jembatan di atas Sungai Seine menjadi satu-satunya tanda yang tersisa pada hari Minggu ini (3/12) atas serangan pisau yang fatal 12 jam sebelumnya terhadap seorang wisatawan Jerman. Tersangka pelaku diduga adalah seorang pemuda yang selama ini sudah diawasi karena dugaan radikalisasi Islam.

Serangan acak di dekat Menara Eiffel tersebut telah menimbulkan kekhawatiran di ibu kota Prancis itu, satu tahun sebelum menjadi tuan rumah Olimpiade. Menurut rencana, pembukaan acara itu akan dilakukan di sepanjang sungai yang memiliki pemandangan indah di jantung kota Paris.

Menteri Dalam Negeri Gerald Darmanin Sabtu malam (2/12) mengatakan setelah membunuh wisatawan itu, tersangka menyeberangi jembatan menuju ke Right Bank dan melukai dua orang lainnya dengan palu. Tersangka, yang meneriakkan kalimat “Allahu Akbar” ini kemudian ditangkap.

Video yang beredar di internet menunjukkan sejumlah polisi dengan senjata terhunus menyudutkan seorang laki-laki berpakaian hitam, dengan wajah ditutupi, dan membawa sesuatu yang tampaknya seperti pisau, di tangan kanannya. Darmanin mengatakan polisi menembak tersangka dua kali dengan senjata kejut listrik, sebelum menangkapnya.

Saat ditanyai polisi, tersangka mengungkapkan kesedihannya atas kematian umat Islam – terutama di Afghanistan dan wilayah Palestina – dan mengklaim bahwa Prancis ikut terlibat di dalamnya.

Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mencuit di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, bahwa berita di Paris itu “mengejutkan.” “Saya ikut berbelasungkawa dengan keluarga dan sahabat anak muda Jerman itu. Dia meninggal begitu muda dalam hidupnya… Tidak ada tempat bagi kebencian dan teror di Eropa,” cuitnya.

Darmanin mengatakan tersangka lahir di Neuilly-Sur-Seine, di luar Paris, pada tahun 1997. Ia pernah divonis dan dipanjara selama empat tahun hingga tahun 2020 karena merencanakan aksi kekerasan. Ia sempat menjalani perawatan psikologis dan dilacak karena dugaan radikalisasi Islam dan berada dalam daftar khusus karena dikhawatirkan telah diradikalisasi.

Media Prancis memberitakan bahwa laki-laki yang hidup bersama kedua orang tuanya di Essone, di luar Paris, adalah keturunan Iran.

Kasus ini telah diserahkan ke kantor jaksa anti-terorisme.

Prancis meningkatkan kewaspadaan akan terjadinya teror sejak penikaman fatal seorang guru di utara kota Arras bulan Oktober lalu oleh mantan siswa yang berasal dari wilayah Ingushetia di Pegunungan Kaukasus Rusia, dan dicurigai telah teradikalisasi. Insiden ini terjadi tiga tahun setelah seorang guru lainnya dipenggal kepalanya oleh seorang warga Chechnya yang teradikalisasi, yang kemudian dibunuh polisi.

Serangan itu menambah kekhawatiran pihak berwenang terhadap potensi kekerasan oleh teroris selama Olimpiade 2024.

Beberapa hari sebelum serangan hari Sabtu itu, Kepala Polisi Paris Laurent Nunez mengumumkan rincian rencana keamanan Olimpiade di Paris, di mana zona lalu lintas akan dibatasi dan orang-orang akan digeledah. Nunez mengatakan salah satu kekhawatiran mereka adalah penggunaan kendaraan sebagai piranti mendobrak dan menerobos kerumunan massa Olimpiade. [em/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com