Pemukim Israel Prihatin dan Marah dengan Larangan Perjalanan ke AS

Di kawasan permukiman Elkana, yang dihuni lebih dari 4.000 warga Israel, ada keprihatinan bahwa larangan melakukan perjalanan yang diberlakukan Amerika mungkin akan menghukum orang-orang yang mengatakan mereka hanya membela diri.

Afik Mansour, pemuda Israel yang tinggal di Elkana, mengatakan jika seorang pemukim menyakiti seorang warga Arab, dalam banyak kasus memang ada alasan yang mendasari. Ia merujuk pada kasus yang menimpanya, yang menimbulkan kerugian secara pribadi dan sosial. Mansour mengatakan insiden-insiden tersebut terkadang muncul karena kemarahan atau kegelisahan atas situasi yang terjadi di masa lalu.

Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken pada tanggal 5 Desember lalu mengumumkan larangan perjalanan terhadap para pemukim Israel yang digambarkan sebagai “ekstremis,” yang dicurigai melakukan kekerasan terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Tidak jelas bagaimana pihak berwenang AS akan memutuskan siapa saja yang tidak memenuhi syarat untuk masuk AS itu.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah kematian warga Palestina yang disebabkan oleh para pemukim meningkat dua kali lipat sejak perang Israel melawan Hamas pecah pada 7 Oktober lalu. Amerika telah menekan pemerintah Israel untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh para pemukim Israel.

Permukiman Elkana didirikan pada tahun 1977 di atas tanah yang dirampas dari sebuah desa Palestina bernama Mas-ha. Saat ini, pemukiman tersebut memiliki blok apartemen modern, vila, supermarket, dan mal di mana para pemukim Israel menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Pemukim Israel didefinisikan sebagai mereka yang telah membangun tempat tinggal di wilayah yang diduduki Israel setelah Perang Enam Hari 1967, termasuk di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Menurut PBB, berdasarkan aturan hukum internasional hingga saat ini ada 700.000 pemukim yang tinggal di Tepi Barat secara ilegal.

Warga Palestina sering menuduh para pemukim mengambil tanah mereka dengan paksa, dan bentrokan kekerasan diantara keduanya kerap terjadi.

Esti Nadav, seorang warga Israel yang sedang berbelanja dekorasi festival Hannukah di Elkana bersama anak-anaknya, mengatakan ia menilai pada akhirnya, orang-orang yang melakukan kekerasan seharusnya tidak diizinkan memasuki tempat atau wilayah tertentu. Pertanyaannya adalah bagaimana mengetahui pemukim mana yang mudah terpancing kekerasan? Ini pertanyaan penting, ujarnya, karena ada orang-orang yang tidak bersalah dan kemudian ikut dilarang masuk ke Amerika.

Seorang pemukim lain, Emilia, mengatakan ia marah dengan larangan perjalanan yang diberlakukan AS.

Emilia mengatakan para pemukim Yahudi terkadang menjadi korban fitnah. Kelompok kiri, ujarnya, sedang mencari narasi dan mencoba memfitnah orang-orang di permukiman. Dia mengatakan tidak mengerti bagaimana Amerika memutuskan untuk melarang sebagian warga Israel, sementara memberikan izin masuk kepada para pengungsi Suriah.

Menurut PBB, 26 warga Israel dan sedikitnya 200 warga Palestina tewas akibat serangkaian aksi kekerasan di Tepi Barat tahun ini. Sebagian pemukim Israel yang lahir di Amerika dan memiliki kewarganegaraan ganda, tidak memerlukan visa untuk bepergian ke Amerika. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com