Pemimpin Negara-negara Arab, Islam Kutuk Operasi IDF di Gaza, Serukan Gencatan Senjata

Seusai pertemuan negara-negara Arab dan negara-negara Muslim, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal Bin Farhan membacakan komunike KTT, dalam konferensi pers bersama Sekretaris Jendral Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam.

“Para pemimpin negara-negara Arab dan negara-negara Muslim berkumpul dalam KTT gabungan antara Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam, untuk mengirim pesan bersama bahwa perang ini harus dihentikan,” ujar Farhan.

Farhan selanjutnya menyatakan bahwa para pemimpin telah mengadopsi sejumlah tindakan untuk memecahkan blokade di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza.

Para pemimpin Arab pada Sabtu (11/11) menyerukan kepada komunitas internasional untuk turun tangan dan memberikan tekanan pada Israel agar membuka koridor kemanusiaan untuk mengirimkan bantuan bagi masyarakat di Jalur Gaza.

Pernyataan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel menolak permintaan dari sekutu-sekutu Baratnya untuk mengambil tindakan lebih guna melindungi rakyat sipil Palestina, ketika pasukannya mengepung rumah sakit terbesar di Gaza, di mana para dokter menyatakan lima pasien meninggal, termasuk bayi prematur, setelah generator terakhir kehabisan bahan bakar.

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed Bin Salman yang menjadi tuan rumah KTT pada Sabtu, menggunakan bahasa yang keras untuk mengutuk operasi militer Israel di Gaza.

“Kami menentang perang yang mengerikan ini beserta semua yang menyertainya dan begitu besarnya korban perempuan, anak-anak dan lanjut usia dan di rumah sakit, tempat-tempat peribadatan dan infrastruktur sipil. Arab Saudi bekerja sama dengan seluruh mitra untuk menghentikan perang ini, dan kami meminta untuk penghentian pertempuran segera, dan pembukaan koridor kemanusiaan, selain pembebasan sandera dan orang-orang tidak bersalah yang ditahan Hamas,” kata Salman.

Stasiun televisi milik Arab Saudi, al Arabiya juga melaporkan resolusi KTT yang meminta pembentukan pengadilan kejahatan perang internasional, dan penghentian terhadap semua upaya paksa pemindahaan rakyat Palestina di Gaza maupun di tempat lain, dan gencatan senjata segera.

Presiden Iran, Ebrahim Raisi, yang kunjungannya ke Arab Saudi dalam KTT pada hari Sabtu itu merupakan kunjungan presiden Iran yang pertama dalam lebih satu dekade, mengklaim bahwa operasi militer Israel di Gaza adalah kejahatan terburuk yang bisa disaksikan dalam sejarah umat manusia.

Raisi kemudian mendesak negara-negara Arab dan Islam untuk menunjuk Angkatan Darat Israel sebagai kelompok teroris dan untuk memaksakan boikot atas Israel, termasuk minyak dan sejumlah komoditas lain. Dia juga menuntut pembentukan pengadilan perang baik untuk pemimpin maupun pejabat Amerika Serikat serta Israel, yang dia klaim telah melakukan kejahatan perang di Gaza.

Presiden Mesir, Abdel Fattah el-Sissi memilih menggunakan nada yang lebih terukur, dengan meminta dilakukannya gencatan senjata segera di Gaza dan pendirian negara Palestina sesuai dengan perjanjian perbatasan pada 4 Juni 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

“Mesir mengutuk pembunuhan terhadap mereka yang tidak bersalah sejak awal, dan kami mengutuk sekali lagi, hukuman kolektif terhadap Gaza, termasuk pembunuhan dan blokade dan pemaksaan pemindahan warga yang tidak bisa diterima, yang tidak bisa dijustifikasi sebagai tindakan membela diri.”

Sissi mengajak komunitas internasional dan Dewan Keamanan PBB untuk mendesakkan gencatan senjata segera dan tanpa syarat di Gaza, dan pengakhiran untuk setiap bentuk pemaksaan apapun dalam upaya pemindahan warga Gaza. Mesir juga meminta komunitas internasional untuk memberikan jaminan keamanan bagi warga sipil. Dia menambahkan, bahwa bantuan kemanusiaan harus diijinkan untuk masuk ke Gaza dan bahwa Israel harus memikul tanggung jawab internasionalnya sebagai kekuatan pendudukan untuk mengijinkan pemberian bantuan ini.

Volker Turk, kepala organisasi hak asasi manusia PBB, yang pada Jumat (10/11) lalu menyebut serangan Hamas pada 7 Oktober terhadap Israel sebagai “kejahatan yang mengerikan,” berpidato di KTT itu. Dia mengutuk perang di Gaza dan jatuhnya korban manusia.

“Di sepanjang Jalur Gaza, lebih dari 10.000 orang telah dilaporkan terbunuh, dengan mayoritas perempuan dan anak-anak. Ada lebih banyak lagi yang dipastikan berada di bawah reruntuhan. Pasukan Israel telah memaksa lebih dari 1,5 juta orang keluar dari bagian utara Jalur Gaza,” kata Turk.

Belum jelas sampai sekarang, tindakan nyata semacam apa yang disiapkan oleh negara-negara Arab dan Muslim untuk mengimplementasikan resolusi atau deklarasi yang dikeluarkan pada KTT hari Sabtu itu. Sejumlah negara Arab, termasuk Mesir, Yordania dan Uni Emirat Arab memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, sementara Iran, Suriah, Lebanon dan Algeria tidak memilikinya. [ns/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com