Papua Nugini dan Australia Sepakati Kerja Sama Kepolisian 

Australia akan kembali memberikan bantuan jutaan dolar kepada kepolisian Papua Nugini, berdasarkan perjanjian empat tahun yang dirancang untuk memberi nilai penting terhadap kemitraan keamanan “tradisional” dalam menghadapi meningkatnya pengaruh China di negara tersebut.

Canberra akan membelanjakan sekitar US$25 juta untuk merenovasi dan memperluas barak polisi dan perumahan, menurut kesepakatan yang diumumkan pada Rabu (31/1) malam.

Investasi tersebut merupakan upaya untuk membantu kepolisian yang terkepung, sekaligus memperkuat hubungan keamanan yang sudah lama ada yang tampaknya semakin rapuh.

Pengumuman itu muncul hanya beberapa hari setelah China menawarkan pelatihan dan memberikan peralatan bagi pasukan kepolisian Papua Nugini yang jumlahnya terbatas – yang saat ini hanya berjumlah beberapa ribu petugas di negara berpenduduk hampir 10 juta orang.

Kantor polisi seringkali rusak, dengan cat yang terkelupas dari dinding dan petugas yang kewalahan dan kekurangan perlengkapan bahkan yang paling mendasar.

Tawaran Beijing meningkatkan kemungkinan penempatan personel keamanan China ke negara yang hanya berjarak beberapa puluh kilometer di lepas pantai utara Australia – sesuatu yang akan menjadi peringatan di Canberra.

“PNG dan polisi Australia bekerja lebih erat saat ini dibandingkan sebelumnya dalam sejarah bilateral kita,” kata komisaris polisi Papua Nugini, David Manning, memuji kemitraan “bilateral tradisional” dengan Australia.

Menteri Luar Negeri Papua Nugini pada pekan ini menyatakan bahwa pemerintah mungkin menolak tawaran bantuan China, yang akan menyerupai bantuan kontroversial ke kepulauan Solomon.

“Tawaran ini sedang dipertimbangkan secara hati-hati, karena kami tidak ingin menduplikasi atau mengkompromikan perjanjian yang sudah ada, dengan mitra keamanan tradisional kami, Australia dan Amerika Serikat,” kata Menteri Justin Tkatchenko.

“Ini tidak akan menjadi akhir dunia jika kita tidak mencapai kesepahaman atau kesepakatan dengan China,” lanjutnya.

Negara kepulauan Pasifik itu membuat perjanjian keamanan terpisah dengan Amerika Serikat dan Australia tahun lalu.

Perdana Menteri Papua Nugini dijadwalkan mengunjungi Australia dan berpidato di parlemen pada 8 Februari.

Australia sejauh ini merupakan donor terbesar bagi Papua Nugini, namun perusahaan-perusahaan China telah membuat terobosan yang kuat dalam memasuki pasar di negara miskin namun kaya akan sumber daya tersebut. [ns/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com