Oposisi Turki Pecah Jelang Pemilu Maret Depan 

Partai oposisi utama Turki kehilangan sekutu penting pada Senin (4/12) dalam upayanya untuk membentuk front persatuan melawan koalisi berkuasa Presiden Recep Tayyip Erdogan, dalam pemilihan tingkat kota yang penuh pertaruhan pada Maret mendatang.

Oposisi sekuler bergabung dalam pemilu bersejarah tahun 2019 yang menyebabkan AKP, partai konservatif Islam yang berkuasa, kehilangan kekuasaan di Istanbul dan Ankara untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan Erdogan.

Namun usahanya untuk melakukan hal yang sama pada pemilihan presiden bulan Mei gagal, dan berakhir dengan perselisihan internal yang sengit.

Oposisi utama, Partai Rakyat Republik (CHP) bulan lalu menggulingkan penantang Erdogan, Kemal Kilicdaroglu, sebagai pemimpin dan memilih pialang kekuasaan yang relatif belum teruji, Ozgur Ozel, untuk memimpin partai tersebut pada Maret.

Kelompok sayap kanan, yaitu Partai Iyi (baik) menarik diri dari aliansi tersebut setelah pemilu dan menyalahkan CHP atas buruknya kinerja oposisi dalam perolehan suara di parlemen pada bulan Mei.

Dan partai utama Partai Rakyat Demokrat (HDP), yang pro-Kurdi, mengubah namanya menjadi HEDEP dan mengumumkan rencana untuk mencalonkan kandidatnya sendiri pada bulan Maret. Sebuah langkah yang dapat membantu sekutu Erdogan dengan merebut bagian suara di kota-kota dengan etnis campuran seperti Istanbul.

Ozel dari CHP melakukan upaya keras dalam beberapa minggu terakhir untuk mengambil kembali dukungan Partai Iyi.

Namun Partai Iyi mengumumkan, setelah rapat penentuan dari dewan pada Senin, bahwa mereka akan mengajukan kandidatnya sendiri pada bulan Maret.

“Partai kami memutuskan untuk mengikuti pemilu secara bebas dan independen,” kata juru bicara partai ini, Kursad Zorlu kepada wartawan. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com