Negara-Negara Teluk Sambut Upaya Damai PBB di Yaman 

Negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Senin (25/12) menyambut baik komitmen baru oleh pihak-pihak yang sedang bertikai di Yaman, untuk mengambil langkah menuju gencatan senjata dan terlibat dalam proses perdamaian yang dipimpin PBB.

Komitmen ini diumumkan oleh utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, yang menandai upaya terakhir untuk mengakhiri perang selama bertahun-tahun. Ratusan ribu orang telah tewas, sebagai korban langsung dari perang, maupun dari sebab-sebab yang tidak langsung seperti kurangnya bahan makanan, dalam apa yang disebut PBB sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk dunia.

Negara paling miskin di semenanjung Arab ini telah dicengkeram perang sejak 2014, ketika pemberontak Houthi yang didukung Iran berhasil maju dan merebut ibu kota, Sanaa. Situasi ini mendorong intervensi militer yang dipimpin Arab Saudi setahun kemudian untuk mendukung pemerintahan sah Yaman yang diakui dunia internasional.

Gencatan senjata yang dimediasi oleh PBB pada April 2022 menurunkan kekerasan secara tajam. Gencatan senjata berakhir pada Oktober tahun lalu, meskipun pertempuran secara umum tetap tidak berlanjut.

Arab Saudi mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka menyambut baik pengumuman PBB pada Sabtu, terkait sebuah peta jalan untuk mendukung langkah perdamaian.

Kementerian Luar Negeri Arab mendesak pihak-pihak yang bertikai di Yaman untuk duduk di meja perundingan, untuk mencapai solusi politik menyeluruh dan awet di bawah naungan PBB.

Oman, yang bertindak sebagai mediator dalam konflik ini, juga menyambut baik perkembangan yang terjadi, dan mengatakan bahwa mereka berharap sebuah kesepakatan akan ditandatangani sesegera mungkin.

Uni Emirat Arab, anggota koalisi pimpinan Arab Saudi dalam memerangi pemberontak Houthi, memuji upaya untuk merampingkan kesepakatan dalam peta jalan damai ini.

Anggota Dewan Kerjasama Teluk yang lain, Qatar, berterimakasih kepada PBB, Arab Saudi, dan Oman untuk dorongan perdamaian dan mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mempercepat kesepakatan.

Ahmed Nagi, analis senior di lembaga International Crisis Group, mengatakan bahwa pengumuman itu merupakan penanda bahwa PBB kini telah memimpin upaya negosiasi, dengan dukungan dari Arab Saudi dan membuka jalan bagi PBB untuk menanangi kesepakatan politik di masa depan.

Sementara itu, pihak-pihak yang bertikai di Yaman, tetap berselisih dalam sejumlah isu, termasuk serangan oleh pemberontak Houthi terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah dalam solidaritas mereka terhadap Gaza yang dilanda perang.

Dalam sebuah pernyataan pada Senin, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi memperingatkan akan risiko dan konsekuensi domestic dari serangan drone dan rudal Houthi.

“Serangan-serangan itu akan mengarah pada naiknya harga bahan makanan di negara yang menderita akibat krisis kemanusiaan,” cuit Menteri Informasi, Moammar al-Eryani di platform media sosial X. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com