NATO Tambah Anggota, Ukraina Masih Harus Menunggu

NATO telah diubah oleh serangan skala penuh Rusia ke Ukraina. Hanya beberapa pekan setelah tank-tank Moskow melintas perbatasan pada Februari 2022, Finlandia dan Swedia mengajukan permintaan untuk bergabung dengan aliansi militer Barat itu.

Pada bulan April, Finlandia secara resmi menjadi anggota NATO ke-31.

Sauli Niinisto, Presiden Finlandia gembira dengan bergabungnya negara itu. “Sebuah era baru telah dimulai. Setiap negara memaksimalkan keamanan mereka sendiri. Begitu juga dengan Finlandia. Keanggotaan NATO memperkuat posisi internasional kami dan ruang untuk bergerak.”

Swedia masih menunggu. Turki, yang sudah menjadi anggota NATO, telah menunda persetujuannya, dengan menuduh Swedia telah menyembunyikan orang-orang yang dianggap teroris oleh Turki.

Para anggota parlemen Turki, masih mendiskusikan permohonan Swedia.

Sekjen NATO, Jens Stoltelberg berharap Majelis Nasional dapat menyelesaikan diskusi terkait ini sesegera mungkin sehingga mereka dapat menyelesaikan ratifikasi bagi Swedia.

NATO telah meningkatkan dukungan bagi Ukraina pada 2023, dengan mengkooordinasikan pengiriman senjata dan pelatian dari negara-negara anggotanya.

Dalam pertemuan tahunannya di Vilnius, aliansi ini menegaskan kembali posisinya bahwa Ukraina akan menjadi anggota NATO dan menyederhanakan tahap-tahap bagi negara itu untuk diterima.

Dmytro Kuleba, Menteri Luar Negeri Ukraina mengatakan, bahwa mereka sebenarnya sudah menjadi anggota NATO secara de fakto, dalam hal kapasitas teknik, pendekatan pengelolaan dan prinsip-prinsip dalam mengelola tentara.

Akses bagi Ukraina adalah keputusan politik bagi para pemimpin NATO, kata mantan kepala perencanaan kebijakan aliansi ini, Fabrice Pothier.

“Saya kira Ukraina mungkin adalah salah satu sekutu yang paling potensial yang mampu dan bisa di luar sana. Tidak ada yang lebih baik. Namun pada dasarnya ini adalah pertanyaan politik tentang apakah di sana ada lebih banyak risiko atau keuntungan untuk menerima Ukraina sekarang, dibanding menunggunya.”

Ukraina sedang mengarahkan pembicaraan terkait akses itu dengan NATO dan Uni Eropa, sementara negara itu bertempur melawan invasi pasukan Rusia.

Sejumlah anggota NATO beralasan bahwa akses bagi Ukraina harus menunggu hingga perang berakhir. Namun itu bisa memperpanjang pertempuran, kata Pothier.

Pothier juga mengatakan, jika penundaan itu terus dilakukan, Presiden Rusia Vladimir Putin akan memiliki keuntungan lain untuk terus melakukan serangan dan mempertahankan tingkat permusuhan cukup tinggi, sehingga tidak akan ada ambang batas yang bisa dilewati Ukraina ke NATO.

Itulah yang menjadi tantangan bagi NATO, karena jalan keanggotaan bagi Ukraina masih sangat tidak pasti. [ns]

Sumber: www.voaindonesia.com