Militer Ukraina Minta Mobilisasi Ratusan Ribu Orang Lagi

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan militer negaranya telah meminta tambahan 450.000 hingga 500.000 tentara Ukraina untuk menambah pasukan dalam perang melawan Rusia.

Dalam konferensi pers akhir tahun di Kyiv pada hari Selasa (19/12), Zelensky mengatakan belum ada keputusan akhir yang dibuat mengenai permintaan tersebut dan para pejabat tinggi militer akan membahas masalah tersebut.

“Saya katakan bahwa saya memerlukan lebih banyak argumen untuk mendukung langkah ini. Karena pertama-tama, ini adalah persoalan masyarakat. Kedua, ini adalah persoalan keadilan. Ini adalah persoalan kemampuan pertahanan. Dan ini adalah persoalan keuangan,” katanya.

Di Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin memuji pasukan negaranya karena berhasil memukul mundur serangan balasan Ukraina yang dimulai pada bulan Juni.

“Pasukan kita memegang inisiatif ini,” katanya pada pertemuan hari Selasa dengan para pemimpin militer. “Kita secara efektif melakukan apa yang kita anggap perlu, melakukan apa yang kita inginkan.”

Serangan balasan Ukraina sebagian besar terhenti melawan pasukan Rusia yang sudah mengakar, dengan hanya merebut kembali sedikit wilayah di bagian timur negara itu.

Sementara itu, kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk pada hari Selasa menyoroti apa yang disebutnya sebagai “kegagalan besar” Rusia dalam mengambil tindakan yang memadai untuk melindungi warga sipil di Ukraina dari serangan Rusia.

Turk mengatakan kantornya telah mengonfirmasi 10.000 kematian warga sipil sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022, namun jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

Dia mengatakan sebagian besar warga sipil tewas di dekat garis depan konflik di Donetsk, Kharkiv, Kherson dan Zaporizhzhia, namun ada juga “korban yang signifikan” karena serangan rudal Rusia ke kota-kota lain di Ukraina.

Turk mengatakan kantornya telah mendokumentasikan kasus-kasus penahanan sewenang-wenang dan penghilangan paksa di wilayah yang diduduki oleh pasukan Rusia, dan bahwa pekerja hak asasi manusia PBB tidak memiliki akses pada tawanan perang yang ditahan di wilayah-wilayah tersebut.

“Mereka (Rusia) harus mengambil semua tindakan pencegahan untuk menghindari dan meminimalkan kerugian sipil, termasuk melalui pemilihan cara dan metode peperangan.”

Rusia membantah telah menarget warga sipil.

Dalam perkembangan lainnya, Perancis dan Inggris menjanjikan dukungan berkelanjutan untuk Ukraina. Janji itu diumumkan di Paris, di mana Menteri Luar Negeri Perancis Catherine Colonna dan Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengadakan pembicaraan.

Cameron mengatakan kedua negara akan mendukung Ukraina “selama diperlukan.”

“Saya yakin kita bisa memastikan Putin akan kalah, dan sangat penting bahwa dia kalah,” kata Cameron. [lt/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com