Masjid Doudian di Beijing Jadi Sasaran Program ‘Sinisisasi’

Masjid Doudian di Beijing, yang merupakan rumah ibadah terbesar bagi umat Muslim di bagian utara China, menjadi landmark arsitektur terbaru yang mengalami perubahan di bawah “Sinicization Program” yang dijalankan oleh pemerintah China. Program Sinisisasi tersebut bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan pengaruh agama asing di negara itu.

Sinisisasi adalah proses tindakan untuk membuat sesuatu lebih berkarakter China, atau menjadikannya berada di bawah pengaruh China.

Menurut surat kabar Hong Kong Sing Tao Daily, dalam renovasi besar-besaran yang berakhir pada bulan April lalu, kubah asli masjid yang bergaya Arab diganti dengan lima menara bundar berwarna putih bergaya China. Dua menara yang diterangi cahaya bulan di sebelah utara dan selatan aula ibadah juga dihancurkan.

Berbagai slogan sekarang dapat dilihat di seluruh masjid itu, termasuk slogan “Nilai-Nilai Inti Sosialis,” dan “Pelajari dan Terapkan Semangat Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis China.”

Slogan lain memberikan indikasi terkuat tentang pemikiran di balik perubahan arsitektur itu yaitu: “Patuhi Arah Sinisisasi Agama di China.”

Sebelumnya bukanlah kontroversi

Fitur Arab pada bangunan yang menjulang tinggi itu, dengan luas mencapai hampir 15.000 meter persegi, tidak menjadi kontroversi ketika masjid itu selesai dibangun 10 tahun lalu.

Menurut Shih Chien-yu, peneliti di Taiwan’s Society of Central Asian Studies, arsitektur Masjid Doudian – yang dapat menampung hingga 1.500 jamaah itu – bahkan diakui oleh Wang Zhengwei, yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Komisi Urusan Etnis Negara, yang selalu mendukung otonomi daerah etnis tradisional.

Perubahan Masjid Dongguan

Namun seiring dengan bertambahnya kekuasaan pemimpin China, Xi Jinping, sejumlah instruksi diberikan untuk “memperbaiki” masjid-masjid dengan fitur-fitur Islam, kata Shih.

Masjid Dongguan, yang berusia 700 tahun, yang terletak di wilayah Xining, Qinghai, adalah salah satu masjid paling terkenal yang diubah. Kubah dan menara masjid yang sangat khas justru dirobohkan pada tahun 2021.

Umat Islam menjalankan ibadah salat Id di Masjid Dongguan pada hari raya Idul Fitri di Xining, Qinghai, pada 9 September 2010. (Foto: Reuters/Stringer)

Menurut publikasi berita-berita hak asasi manusia “Bitter Winter,” langkah serupa diambil terhadap simbol-simbol Islam dan budaya rakyat di masjid-masjid di seluruh China, yang juga telah dihilangkan sejak China meluncurkan “Program Sinisisasi” yang menargetkan Muslim di luar Xinjiang pada tahun 2018.

Dalam sebuah wawancara dengan VOA, juru bicara Kongres Uyghur Dunia, Dilshat Rishit, menyesalkan perubahan karakter Masjid Doudian itu.

“China mengubah gaya Arab menjadi apa yang dianggap sebagai gaya China. Dan ketika Anda melihatnya, Anda menyebutnya kuil, tetapi itu bukan kuil, dan Anda menyebutnya masjid, tetapi itu bukan masjid,” katanya.

Pemerintah Xi merasa terancam karena semakin banyak orang China yang berpaling ke agama selain Taoisme dan Buddha, yang semula berakar kuat di China, ujar Shih.

“Setelah Xi berkuasa, ia percaya bahwa orang-orang tidak akan lagi melihat [Partai Komunis China] sebagai kepercayaan utama mereka, sehingga mengancam keberadaan partai itu,” tambahnya.

Berdampak pada ibadah

Pihak berwenang China tidak hanya memaksa masjid untuk “memperbaiki diri” tetapi juga berkomitmen untuk mengubah praktik agama-agama yang berasal dari luar negeri.

Di Xinjiang, misalnya, meskipun pihak berwenang tidak secara eksplisit melarang puasa selama bulan Ramadan, namun banyak warga Muslim melaporkan bahwa mereka akan menghadapi hukuman jika berpuasa.

Shih mengatakan pihak berwenang bahkan mengontrol cara umat Islam membaca Al-Qur’an.

“Menurut Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an harus dibaca dalam bahasa Arab,” ujarnya. “Pemerintah China menganggap hal itu sebagai pengaruh yang sangat buruk. Mereka berpikir bahwa sekolah-sekolah agama dipengaruhi oleh kekuatan asing.”

Dilshat percaya bahwa jika pihak berwenang China terus menekan keyakinan agama yang berasal dari luar negeri, hal itu akan “semakin memperburuk kekacauan.”

“Orang-orang akan putus asa untuk mempertahankan keyakinan mereka,” katanya. “Jika China melanjutkan kebijakan ekstremnya untuk menghilangkan kepercayaan atau agama seperti ini, hal itu akan meningkatkan ketegangan dan menyebabkan protes dan konflik.” [em/lt]

Adrianna Zhang berkontribusi pada laporan ini.

Sumber: www.voaindonesia.com