Mahasiswa Indonesia di Tel Aviv Memilih Bertahan, 10 WNI di Gaza Menunggu Perbatasan Raffah Dibuka 

“Saya lebih memilih untuk tetap tinggal dan lihat perkembangan situasi karena ada risiko untuk menuju ke perbatasan di utara, yaitu ke Amman (Yordania.red). Saya masih memperhitungkan hal itu.”

Inilah petikan pernyataan Thadeo Arlo, mahasiswa Indonesia di ibu kota Tel Aviv, Israel, yang memilih untuk bertahan. Deo, panggilannya, sudah empat tahun berkuliah di Israel Institute of Technology, di jurusan Ilmu Komputer. Saat diwawancarai Rabu sore waktu Tel Aviv, Deo masih berada di dalam gedung kampusnya, yang berlantai 12. Sesekali terdengar suara roket melintas dan sirene. Namun Deo tampak tetap tenang.

Thadeo Arlo, mahasiswa Indonesia di ibu kota Tel Aviv, Israel (dok. pribadi).

“Suasana hari ini… hmmm bakal ada sirene lagi nih.. kadang-kadang kita harus berlindung. Ini terdengar suara ledakan beberapa kali. (Jadi Tel Aviv memang lebih gawat dibanding kota-kota lain karena menjadi salah satu target utama Hamas?) Kerusakan di Tel Aviv tidak separah kota-kota lain, tetapi benar, kota ini merupakan target Hamas karena menjadi pusat finansial dan pemerintahan, dan ada bandara internasional juga di sini. Baru saja bandara juga kena ledakan dua kali, sebelum kita wawancara ini,” tuturnya.

Deo adalah salah seorang dari 94 mahasiswa Indonesia yang masih bertahan di Tel Aviv. Tetapi di kompleks kampus di mana Deo berada, hanya ada sekitar 20 mahasiswa Indonesia. Mereka telah mendapat instruksi untuk segera berlindung ke bunker di bawah gedung ketika mendengar sirene peringatan. Namun hanya diberi waktu satu menit untuk mencapai bunker, sebelum ditutup. Ada beberapa gedung di kampus Deo, dan gedung yang ditinggalinya berlantai 12.

230 WNI di Israel Tiba di Yordania, 54 Lainnya Belum Diketahui

Berbeda dengan Deo, 230 warga negara Indonesia yang sebelumnya sedang menjalankan ziarah religi ke Yerusalem dan Kota Tiberias memutuskan segera meninggalkan Israel begitu mendengar himbauan dari pemerintah Indonesia. Mereka tiba di Yordania Selasa malam lalu (10/10) telah sempat menunggu beberapa jam untuk menyebrang.

Hal ini disampaikan Duta Besar Indonesia Untuk Yordania Ade Padmo Sarwono saat diwawancarai VOA beberapa saat lalu.

“Alhamdulillah 230 WNI kita yang sebelumnya sedang melakukan ziarah religi ke Yerusalem dan Danau Galilea di kota Tiberias telah tiba di Yordania. Mereka sudah di perbatasan tepi barat Israel-Yordania sejak pagi, tetapi harus menunggu empat jam untuk menyebrang, dan harus kembali menunggu di pintu perbatasan,” ujar Ade.

Meskipun demikian sekitar 54 WNI lain yang juga mengikuti ziarah religi serupa masih berada di Israel dan belum diketahui pasti keberadaannya.

Pemerintah Indonesia pada hari Selasa (10/10) telah mengimbau agar seluruh WNI yang berada di Israel dan Palestina segera meninggalkan tempat itu, merujuk pada situasi keamanan yang semakin mencemaskan.

Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Luar Negeri segera melakukan koordinasi dengan tiga kantor kedutaan besar (KBRI) yaitu: KBRI Amman di Yordania, KBRI Kairo di Mesir, dan KBRI Beirut di Lebanon.

10 WNI di Gaza Siap Menyeberang, Tunggu Pintu Perbatasan Raffah Dibuka

Di Israel diketahui ada 38 WNI yang sudah menetap cukup lama di daerah luar ibu kota, dan 94 mahasiswa program pertukaran yang sedang berada di Tel Aviv. Sementara di Palestina diketahui ada 10 WNI, termasuk satu keluarga beranggotakan lima yang menetap di Jalur Gaza.

Ade Padmo Sarwono, Duta Besar RI untuk Yordania (dok. pribadi).

Ade Padmo Sarwono, Duta Besar RI untuk Yordania (dok. pribadi).

Dubes Ade Padmo mengatakan kesepuluh WNI di Jalur Gaza ini sudah menuju ke pintu perbatasan Raffah untuk menyebrang ke Mesir, tetapi hingga laporan ini disampaikan pintu perbatasan tak kunjung dibuka.

“Sejak hari Minggu kami telah bekerjasama erat dengan KBRI Kairo dan Jakarta untuk proses evakuasi, karena satu-satunya jalan keluar adalah lewat perbatasan Israel dengan Mesir. Tetapi hingga saat ini pintu perbatasan Raffah ditutup karena pemboman oleh Angkatan Udara Israel. Jika nanti pintu perbatasan dibuka, mereka bisa keluar lewat sana. Sementara yang di Israel, kita masih mencari berbagai opsi mengingat kita tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel,” ujar Ade.

Pintu perbatasan Raffah adalah satu-satunya rute penyeberangan dari Gaza ke Mesir yang tidak dikontrol oleh Israel, yang telah memberlakukan blokade sejak tahun 2007. Sejak Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant memerintahkan “pengepungan total” Gaza, termasuk memutus aliran listrik, air, makanan dan bahan bakar, maka pintu perbatasan Raffah dijaga ketat. Satu serangan udara Israel menghantam Raffah hari Selasa, yang kedua dalam dua hari terakhir. Serangan udara itu memaksa beberapa truk yang membawa bahan bakar dan barang-barang ke wilayah Palestina untuk mundur.

KBRI di Kairo masih terus melakukan kontak dengan pihak berwenang di Mesir untuk mengizinkan warga negara Indonesia menyebrangi pintu perbatasan satu-satunya itu begitu dibuka. [em/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com