Magnet NU di Pemilihan Presiden 2024

Pemilihan presiden 2024 akan menjadi ajang pertarungan antara berbagai kekuatan politik di Indonesia. Salah satu kekuatan yang paling berpengaruh adalah Nahdatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki sekitar 150 juta anggota dan simpatisan.

Tak heran, kini partai-partai politik seakan berlomba memasangkan calon presidennya dengan tokoh yang memiliki latar belakang NU. Ketua Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin yang kini berpasangan dengan Anies Baswedan. Demikian pula dengan Mahfud MD yang kini berduet dengan Ganjar Pranowo. Keduanya memiliki latar belakang NU yang kuat.

Pengamat politik di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Firman Noor mengatakan dalam kontestasi pemilihan presiden, suara para Nahdliyin atau komunitas Nahdatul Ulama (NU) sangat diperhitungkan sebagai organisasi masyarakat dengan basis massa terbesar di Indonesia. Terlebih karena NU juga berbasis di Jawa Timur, yang merupakan kantong suara terbesar kedua di Indonesia.

Firman mengakui bahwa kandidat presiden memang memerlukan sosok yang memiliki kedekatan dengan kalangan Islam, terutama Nahdliyin, untuk memperkuat posisi mereka di kantong suara NU di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Calon presiden Ganjar Pranowo dan calon wakil presiden Mahfud MD mendatangi KPU pada Kamis (19/10) untuk mendaftar sebagai calon presiden dan wakil calon presiden. (VOA/Indra Yoga)

Dipasangkannya Mahfud MD dengan Ganjar, menurut Firman, karena ada kesadaran bahwa salah satu kelemahan Ganjar adalah kurang basis dukungan di kalangan Islam, terutama di kalangan santri NU. Untuk itu diperlukan tokoh yang merepresentasikan kalangan NU dan secara umum, kalangan Islam.

Meskipun Mahfud bukan “NU struktural” tetapi dia hidup dan besar dari kalangan “NU kultural” terutama di daerah Madura – yang merupakan tanah kelahirannya – sehingga paham nilai-nilai atau tradisi NU serta pola hubungan dengan para kiai.

Sementara Cak Imin, yang merupakan keponakan Gus Dur, memiliki “darah biru” karena kakeknya adalah pendiri NU. Hal ini setidaknya dapat mendokrak suara dari Anies Baswedan.

Menarik Suara Nadhliyin Kini Bukan Perkara Mudah

Melihat beragamnya preferensi kaum Nadhliyin dalam memilih pemimpin dan “seruan” untuk senantiasa kembali ke Khittah 1926, menarik suara mereka kini bukan perkara mudah.

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Prof. Dr. Firman Noor, S.IP., M.A. (Foto: Dok Pribadi)

Kepala Pusat Riset Politik BRIN, Prof. Dr. Firman Noor, S.IP., M.A. (Foto: Dok Pribadi)

Kunci utama pasangan capres dan cawapres untuk merebut suara pemilih dari kalangan NU adalah strategi ketika mendekati komunitas tersebut secara struktural dan kultural.

“Jumlahnya besar (NU) dan ini bisa dimobilisir menjadi suatu kekuatan politik karena dalam dunia demokrasi, numbers yang penting. Dan disitu pola hubungannya memang patron klien antara kyai dengan santri-santrinya sehingga kalau mau mendapatkan suara besar harus melibatkan kyai di kalangan NU yang dia bisa menginstruksikan baik langsung atau tidak untuk mengarahkan pilihan terhadap seseorang. Dan sampai hari ini masih menjadi sebuah realita di Indonesia,” ujar Firman Noor kepada VOA.

Tren ini, kata Firman, sudah muncul sejak pemilihan presiden pertama pada tahun 2004. Saat itu dari lima cawapres yang bertarung dalam pilpres, memiliki kedekatan dengan NU adalah Salahuddin Wahid, Hasyim Muzadi dan Jusuf Kalla.

Tren tersebut terus berulang dalam pilpres selanjutnya, ketika Presiden Joko Widodo memenangkan kontestasi pada 2019 bersama Ma’ruf Amin yang saat itu merupakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berlatarbelakang NU.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi menjelaskan sekitar 15 persen dari total pemilih Indonesia berada di Jawa Timur. Dari 70 puluh persen pemilih di Jawa Timur, 80-90 persen mengaku dekat dengan NU. Kondisi ini membuat partai koalisi dan capresnya menilai potensial untuk bisa “diraup” suaranya.

Oleh karena itu Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD sebetulnya dianggap memiliki basis massa di NU Jawa Timur. Sementara Erick Thohir yang juga disebut-sebut sebagai calon wakil presiden dari kubu Prabowo Subianto adalah menjadi anggota Gerakan Pemuda Anshor, yang juga bagian dari NU. Mereka, kata Dodi, nantinya harus “berburu” pemilih di Jawa Timur.

“Pertama, yang mempunyai akar ke-NU-an, itu bisa menambah suara. Kedua, NU dianggap sebagai block voting, jadi pemilih yang kurang lebih homogen setelah itu akan bisa menyumbang besar kepada siapapun capresnya kalau wakil capresnya memiliki latar belakang NU,” ujarnya.

Untuk mendapatkan suara yang semaksimal mungkin, para kontestan ini dapat mendatangi secara langsung pemilih atau kemudian mendekati kiai. Di beberapa titik, beberapa kiai apa yang dipilihnya akan diikuti santrinya atau para pengikutnya di wilayah-wilayah tertentu, tambah Dodi.

Setelah secara resmi mendaftar sebagai peserta pemilihan presiden 2024 ke Komisi Pemilihan Umum, Kamis (19/10), Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD beserta tim sukses dan partai politik pengusung akan langsung bergerak untuk memikat hati pemilih. Berhasil tidaknya, akan terjawab di kotak suara Februari 2024 nanti.[fw/em]

Sumber: www.voaindonesia.com