Korsel dan Arab Saudi Teken Perjanjian Kerja Sama Pertahanan

Korea Selatan dan Arab Saudi pada Minggu (4/2) menandatangani nota kesepahaman untuk memperluas kerja sama pertahanan, kata Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korea Selatan. Ini dilakukan sewaktu Seoul berupaya melanjutkan penjualan senjatanya di kawasan tersebut.

Berdasarkan perjanjian itu, kedua pihak akan menetapkan komite bersama untuk membentuk kelompok kerja bagi penelitian dan pengembangan sistem persenjataan serta produksinya untuk melanjutkan kerja sama dalam bidang pertahanan, kata DAPA dalam siaran persnya hari Senin (5/2).

Menteri Pertahanan Shin Won-sik, yang mengunjungi Pameran Pertahanan Dunia di Riyadh sebagai bagian dari lawatan sepekannya ke Timur Tengah, dan Menteri Pertahanan Saudi Khalim bin Salman Al Saud hadir dalam acara penandatanganan perjanjian itu, menurut DAPA.

Sebuah landasan kerja sama pertahanan, yang merupakan “kemitraan strategis berorientasi masa depan” telah dibangun, kata Shin yang dikutip dalam siaran pers Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

Shin juga mengadakan pembicaraan dengan Abdullah bin Bandar Al Saud, Menteri Garda Nasional Arab Saudi, untuk membahas kemitraan pertahanan dan penguatan kerja sama militer bilateral, kata kementerian tersebut.

Korea Selatan sedang berupaya meningkatkan penjualan untuk menjadi salah satu pemasok senjata terbesar di dunia, meskipun ada persaingan ketat dari eksportir senjata global lainnya.

Penjualan senjatanya melonjak menjadi $17 miliar pada tahun 2022 dari $7,25 miliar pada tahun sebelumnya, menurut Kamar Dagang dan Industri Korea.

Dalam beberapa tahun ini, perusahaan-perusahaan Korea Selatan Hanwha, Poongsan dan LIG Nex1 mencapai kesepakatan dengan Arab Saudi, yang secara kolektif nilainya sekitar $989 juta, untuk beragam peluncur roket, amunisi dan sistem elektrooptik, dan lebih banyak lagi kesepakatan yang sedang mereka garap, menurut International Institute for Strategic Studies yang berbasis di London dalam laporan bulan November lalu.

“Negara-negara Teluk Arab sedang berupaya mendiversifikasi sumber pengadaan pertahanan dan kemitraan di luar negara-negara Barat yang menjadi pemasok tradisional mereka,” kata laporan itu. “Dan Seoul dapat menawarkan alternatif peralatan yang semakin canggih, sering kali dengan harga yang bersaing dan waktu tunggu yang lebih singkat.” [uh/ns]

Sumber: www.voaindonesia.com