Konflik Gaza Jadi Pukulan bagi Debat di Pakistan untuk Akui Israel

Sementara permusuhan antara Israel dan Hamas telah meningkatkan keraguan mengenai masa depan upaya Israel membangun hubungan dengan Arab Saudi dan dunia Muslim yang lebih luas, para pengkritik mengatakan bahwa permusuhan tersebut secara signifikan juga akan membatasi perdebatan publik di Pakistan mengenai apakah akan mengakui negara Yahudi itu.

Islamabad tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan menolak mengakuinya sebagai negara berdaulat sebelum negara Palestina berdiri – suatu kebijakan jangka panjang banyak negara yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Warga Pakistan tidak dapat mengunjungi negara Yahudi itu karena paspor mereka “berlaku untuk semua negara di dunia kecuali Israel.”

Akan tetapi perdebatan kadang=kadang muncul di berbagai saluran televisi, surat kabar dan platform media sosial utama, mengenai apakah negara Asia Selatan itu harus mempertimbangkan sikapnya terhadap Israel.

Kedua negara telah mengadakan pertemuan rahasia mengenai isu-isu keamanan sejak para menteri luar negeri mereka bertemu secara terbuka pada tahun 2005.

Perdebatan publik terbaru berakar dari upaya untuk menggalang hubungan antara Arab Saudi dan Israel sesuai dengan Perjanjian Abraham yang diperantarai AS yang memungkinkan Uni Emirat Arab dan Bahrain menormalisasi hubungan dengan Israel pada tahun 2020.

Wacana ini meraih momentumnya pada Maret lalu sewaktu Fishel Benkhald, seorang Yahudi Pakistan di kota pelabuhan Karachi, Pakistan Selatan, mengungkapkan melalui platform media sosialnya bahwa ia berhasil mengekspor bahan makanan kosher pertamanya ke Yerusalem dan Haifa.

Para pejabat di Islamabad ketika itu mengatakan bahwa kegiatan ekspor itu berlangsung melalui negara ketiga dan ini merupakan inisiatif Benkhald, seraya mengatakan ini sama sekali tidak mengisyaratkan pembentukan hubungan perdagangan langsung dengan Israel.

Permusuhan yang dimulai Sabtu lalu tampaknya telah menutup pembahasan lebih lanjut mengenai kemungkinan hubungan Israel-Pakistan, setidaknya untuk saat ini.

“Pelajaran pertama dari perang Gaza adalah apa yang disebut debat atau diskusi mengenai pengakuan Israel di Pakistan telah terkubur,” kata Senator Mushahid Hussain, ketua komisi pertahanan di majelis tinggi parlemen Pakistan kepada VOA.

“Ini tidak penting, dan hanya karena beberapa negara Arab melakukannya, tidak ada perlunya, tidak ada kewajiban bagi Pakistan untukmelakukannya, karena kita memiliki pandangan sendiri mengenai hal itu, yang lebih bertahan lama dan lebih lama daripada pandangan negara-negara Arab,” kata senator berpengaruh itu.

Maleeha Lodhi, mantan duta besar Pakistan untuk AS dan PBB, mengatakan, waktunya belum matang untuk menjajaki normalisasi.

“Di Pakistan, seperti di negara-negara Muslim lainnya, sentimen publik sangat kuat dalam mendukung rakyat Palestina,” kata Lodhi kepada VOA. “Pakistan telah menjadi pendukung kuat perjuangan Palestina. Pakistan ingin melihat konflik mereda,” lanjutnya. [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com