Keselamatan Anak-anak di Tepi Barat Ikut Terancam akibat Konflik

Odeh Ahmad Jahalin, 10 tahun, berupaya menunjukkan wajah tegar saat anggota keluarga dan teman-temannya berduka atas kematian adik perempuannya, Ruqaya. Odeh mengatakan ia sering bermain dengannya, dan sekarang sangat merindukannya. Ia telah kehilangan harapan, tambahnya.

Adik perempuannya yang berusia empat tahun itu secara tidak sengaja tertembak pasukan Israel pada 7 Januari lalu ketika berada di kursi belakang sebuah taksi bersama ibunya, yang sedang melintasi pos pemeriksaan di dekat desa Beit Iksa.

Polisi perbatasan Israel mengatakan sebuah mobil yang melaju di belakang taksi yang ditumpangi gadis itu bersama ibunya tidak berhenti untuk diperiksa. Hal itu mendorong pasukan keamanan Israel menembaki mobil tersebut, yang secara tidak sengaja juga mengenai mobil yang ditumpangi gadis itu.

Keselamatan anak-anak Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel ikut terancam akibat konflik di Gaza yang meluas ke Tepi Barat.

Ayah Ruqaya, Ahmad Jahalin, mengatakan keluarganya tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Mereka sangat terkejut dengan penembakan tersebut, dan mengatakan putrinya telah menjadi martir. Dengan suara lirih Ahmad, yang sangat berduka, menceritakan betapa ia sangat merindukan putri bungsu kesayangannya itu.

“Kami tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Kami sangat kaget dengan penembakan kedua mobil ini, dan Ruqaya menjadi martir karenanya. Saya rindu putri saya. Ia anak bungsu saya, kesayangan saya….,” keluhnya dengan perasaan sedih.

Pejabat-pejabat Israel mengatakan masih menyelidiki insiden itu.

VOA bicara dengan Jonathan Crickx, Kepala Urusan Komunikasi UNICEF Untuk Palestina, tentang situasi yang dihadapi anak-anak di Tepi Barat.

“Ada 85 anak yang telah terbunuh di Tepi Barat dalam 13 minggu terakhir ini saja, tepatnya sejak 7 Oktober lalu. Jumlah ini dua kali lipat anak-anak yang tewas pada tahun 2022.”

Hidup dalam ketakutan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari bagi anak-anak seperti Odeh, saudara laki-laki dari anak perempuan yang terbunuh itu, yang terkadang mencampuradukkan laporan mengenai pertempuran di Gaza dengan apa yang terjadi di Tepi Barat.

“Kalau saya bermain di luar rumah, saya akan mati. Karena Israel kini membom sekolah, universitas dan rumah sakit,” ujar Odeh.

Ancaman kekerasan merupakan realitas bagi ayah Ruqaya, Ahmad, yang harus diterima. Ia mengatakan perang dan pembunuhan adalah hal-hal yang membuat anak-anak tidak pernah dapat menikmati masa kanak-kanak mereka, termasuk putrinya, Ruqaya. Juga anak-anak di Gaza, di Jenin, dan seluruh anak Palestina. Mereka terdampak letusan senjata, ujarnya seraya menambahkan, bahkan bukan hanya anak-anak, tetapi juga remaja, laki-laki dan perempuan.

Guru sekolah dasar di Arab East Jerusalem, yang berbatasan dengan Tepi Barat, Sujout Hamid, mengatakan setiap hari siswa-siswa mengatakan kepadanya…

“Mereka setiap hari bertanya pada kami, bagaimana kami dapat belajar dan hidup normal? Kami melihat anak-anak di Gaza meninggal setiap hari dengan cara yang mengerikan. Ini sangat sulit dicerna bagi anak-anak.”

Jonathan Crickx mengatakan, “Itulah sebabnya UNICEF menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan melakukan apapun untuk mengurangi aksi kekerasan terkait konflik ini. Karena anak-anak yang paling rentan menjadi korbannya.” [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com