Kampanye Dimulai Bagi Pemilu Nasional Pakistan yang Tertunda

Partai yang menjadi kandidat terdepan dalam pemilu yang tertunda di Pakistan mulai berkampanye, Senin (15/1), setelah keputusan pengadilan pada akhir pekan secara efektif menyatakan partai oposisi mantan perdana menteri Imran Khan tidak bisa berpartisipasi.

Pemungutan suara di Pakistan bulan depan telah dirusak oleh klaim-klaim adanya kecurangan sebelum pemilu, di mana para analis mengatakan bahwa pihak militer mengupayakan agar Khan tidak bisa ikut bersaing dan mendukung perdana menteri Nawaz Sharif yang sudah tiga kali menjabat.

Pada hari Senin, partai Liga Muslim Pakistan (PML-N), partainya Sharif memulai kampanye di kota Okara, Pakistan Timur, di mana ribuan pendukungnya mendengarkan pidato para pemimpin senior partai tersebut.

“Mereka yang mencintai negara ini tidak bisa memilih orang lain selain Nawaz Sharif,” kata putri Nawaz Sharif, Maryam, wakil presiden PML-N.

Sementara itu Khan, politisi paling populer di negara itu mendekam di penjara dan dilarang mencalonkan diri karena kasus-kasus yang menurutnya diajukan oleh pihak berkuasa.

Seorang pria melihat grafik yang berisi simbol partai politik dan kandidat independen di kantor pemilu di Rawalpindi, 15 Januari 2024 menjelang pemilu Pakistan.(Aamir QURESHI / AFP)

Pada hari Sabtu, Mahkamah Agung memberikan pukulan baru kepada partainya, Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI), dengan tidak mencantumkan simbol tongkat kriket di surat suara.

Langkah ini praktis memaksa para kandidat PTI untuk mencalonkan diri sebagai kandidat independen dan melarang simbol itu menjadi ikon penting yang memungkinkan jutaan pemilih buta huruf mengidentifikasi calon dari partai tersebut pada 8 Februari.

PTI pernah mempunyai kekuatan jalanan yang besar, mampu mengumpulkan ribuan orang dalam demonstrasi besar-besaran di berbagai penjuru negara itu sebelum pihak berwenang melakukan tindakan keras selama berbulan-bulan.

Pada hari Minggu, pertemuan PTI di Karachi, kota di bagian selatan, dibubarkan oleh polisi yang menangkap para penyelenggaranya.

Pemungutan suara tersebut akan berlangsung di tengah meningkatnya serangan militan dan kemerosotan ekonomi yang telah menghancurkan mata uang rupee dan menyebabkan melonjaknya biaya hidup. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com