Israel Isyaratkan Perubahan Taktik dengan Penarikan Sebagian Pasukan

Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Selasa (2/1) mengatakan, anggapan bahwa Israel akan segera menghentikan sementara perangnya melawan Hamas merupakan sebuah kekeliruan.

Pernyataan Gallant itu disampaikan sehari setelah militer Israel mengatakan pihaknya menarik ribuan tentara dari Jalur Gaza dalam penarikan pasukan terbesarnya sejak perang pecah hampir tiga bulan lalu.

“Tujuannya adalah untuk menguras tenaga musuh, melenyapkan mereka dan memastikan kita pada akhirnya menguasai wilayah tersebut. Metodenya sederhana – Anda mengubah langkah Anda berdasarkan pencapaian dan penilaian situasi yang Anda lakukan. Kami tidak menyerah – kami tidak menghentikan aktivitas kami sekarang – karena ada pendapat yang keliru yang selama ini saya dengar,” ujarnya.

Israel menarik sebagian pasukannya dari Gaza untuk beralih ke operasi yang lebih terarah untuk menghadapi Hamas, kata salah seorang pejabat Israel hari Senin (1/1).

Peralihan ke operasi “pembersihan” itu menandakan sebuah fase baru dalam serangan Israel yang diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan.

Pejabat itu mengatakan, perang di wilayah kantong Palestina itu akan dilanjutkan hingga kelompok militan Hamas berhasil digulingkan.

Sejak melancarkan serangan ke Gaza setelah Hamas menyerang Israel selatan pada 7 Oktober 2023, pejabat Israel telah mengatakan bahwa mereka berencana melancarkan serangan dalam tiga tahap utama. Yang pertama, gempuran bom secara intensif untuk membersihkan jalur akses bagi pasukan darat Israel dan mendorong warga sipil untuk mengungsi. Yang kedua adalah invasi Israel yang dimulai pada 27 Oktober lalu.

Dengan telah dikuasainya sebagian besar Jalur Gaza oleh tank dan tentara Israel, terlepas dari berlanjutnya penyergapan oleh militan Palestina dari terowongan dan bunker tersembunyi, militer Israel bergerak menuju tahap ketiga, kata pejabat yang namanya tidak dapat diungkap mengingat isu yang sensitif.

“(Tahap) ini setidaknya akan memakan waktu enam bulan dan melibatkan misi pembersihan yang intens terhadap para teroris. Tidak ada yang namanya merpati perdamaian diterbangkan dari Shajaia,” ungkapnya kepada Reuters, merujuk pada salah satu distrik di Gaza yang dilanda pertempuran.

Sementara itu, sebagian pasukan yang ditarik dari Gaza akan dipersiapkan untuk dirotasi ke perbatasan Israel dengan Lebanon di sisi utara negara itu, kata salah seorang pejabat Israel. Pengurangan pasukan juga memungkinkan sebagian tentara cadangan untuk kembali ke kehidupan mereka sebagai warga sipil untuk membantu perekonomian Israel yang dilanda perang.

Menteri pertahanan Israel Yoav Gallant juga mengatakan pada Senin bahwa sebagian warga Israel yang bermukim di utara Jalur Gaza dan dievakuasi akan dapat segera kembali ke rumah mereka.

Sementara itu, Kamis (28/12) lalu, Mesir mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengajukan sebuah proposal kerangka kerja untuk mengakhiri konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, yang mencakup tiga tahap yang diakhiri dengan gencatan senjata.

Pemimpin Hamas Dr. Basem Naim mengatakan pada Jumat (29/12) bahwa tidak akan ada kesepakatan maupun negosiasi pertukaran tahanan hingga Israel mengakhiri agresinya di Jalur Gaza.

“Sementara itu kami terbuka pada inisiatif apa pun yang dapat mengakhiri perang genosida Israel ini, dan di sini kami juga harus mengonfirmasi kepada semua pihak yang terlibat atau prihatin dengan periode pascaagresi di Gaza, bahwa ini adalah urusan internal Palestina dan hanya diputuskan oleh kepemimpinan Palestina, yang mewakili seluruh rakyat kami secara bebas dan transparan,” kata Naim.

Pada Senin, Angkatan Laut AS mengumumkan, kapal induk Gerald R. Ford berlayar kembali ke pelabuhan asalnya di Virginia setelah diterjunkan ke Mediterania Timur menyusul pecahnya perang Israel-Hamas.

Perang di Gaza telah menghancurkan sebagian besar wilayah itu dan menjerumuskan 2,3 juta penduduknya ke dalam bencana kemanusiaan.

Otoritas kesehatan Palestina mengatakan sekitar 22.000 penduduknya tewas.

Serangan ke Gaza dilakukan setelah Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober lalu, yang menurut Israel telah menyebabkan 1.200 orang tewas dan 240 orang disandera. [rd/lt]

Sumber: www.voaindonesia.com