Israel Gagal Melindungi Sebanyak Mungkin Warga Sipil

Amerika Serikat, yang merupakan pendukung setia Israel dalam perang melawan kelompok militan Hamas, pada Minggu (10/12) mengatakan militer Israel gagal dalam niatnya untuk melindungi sebanyak mungkin warga sipil Palestina yang mencoba melarikan diri dari serangan Israel di Jalur Gaza.

Berbicara dalam program “State of the Union” di stasiun televisi CNN, Menteri Luar Negeri Antony Blinken mengingatkan “melindungi warga sipil merupakan hal yang sangat penting.” Ia menekankan bahwa Israel telah gagal melindungi warga sipil Palestina karena masih terus melakukan serangan terhadap kelompok militan di daerah kantong sempit di sepanjang Laut Mediterania itu.

Diplomat tertinggi AS itu mengatakan, “apa yang tidak kita lihat adalah masa-masa dekonfliksi sehingga bantuan [lebih banyak bantuan kemanusiaan] dapat dibawa masuk” ke Gaza dan “kejelasan garis demarkasi” untuk daerah-daerah di mana Israel tidak akan menyerang sehingga warga sipil dapat menemukan tempat perlindungan yang aman. Masa dekonfliksi adalah masa meningkatkan koordinasi untuk menghindari jatuhnya lebih banyak korban di suatu daerah.

Majelis Umum PBB akan kembali melangsungkan pertemuan darurat pada Selasa (12/12) untuk melakukan pemungutan suara atas rancangan resolusi yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza. Duta Besar Palestina untuk PBB Riyad Mansour mengatakan kepada The Associated Press bahwa rancangan resolusi itu mirip dengan resolusi Dewan Keamanan yang diveto oleh Amerika Serikat pada Jumat (8/12) lalu.

Pertempuran sengit

Setelah pertempuran sengit selama 24 jam, tank-tank Israel pada hari Minggu meluncur ke pusat Kota Khan Younis, kota utama di bagian selatan Jalur Gaza. Militer Israel mengatakan telah menyerang lebih dari 250 target dalam 24 jam terakhir, termasuk beberapa bagian di selatan dekat Khan Younis, dan juga lingkungan Shajaiya di bagian utara Kota Gaza.

Israel juga mengatakan bahwa puluhan pejuang Hamas telah menyerah, dan mendorong agar lebih banyak lagi dari mereka untuk melakukan hal yang sama. Namun kelompok militan Palestina itu membantah pernyataan tersebut dan menyebut klaim tersebut “salah dan tidak berdasar.”

Israel telah bersumpah untuk menghancurkan Hamas, sebuah kelompok militan yang telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat, setelah para militan Hamas menyerang bagian selatan Israel pada 7 Oktober lalu, yang menewaskan 1.200 orang dan menangkap sekitar 240 sandera. Hingga laporan ini disampaikan, Hamas, yang telah memerintah di Gaza sejak tahun 2007, masih menahan sekitar 140 orang.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, daerah yang dikelola Hamas, mengatakan bahwa 18.000 orang – yang sebagian besar perempuan dan anak-anak – telah tewas dalam serangkaian serangan udara dan darat Israel dalam tujuh minggu terakhir ini.

Dewan Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan pertemuan pada hari Minggu untuk membahas situasi kesehatan di Gaza. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menggambarkan situasi kesehatan di Gaza sebagai “bencana”, dan bahwa hampir tidak mungkin untuk diperbaiki.

Dewan yang beranggotakan 34 anggota itu mengesahkan mosi darurat WHO dengan konsensus untuk mengamankan lebih banyak akses medis di daerah kantong tersebut.

Para pejabat Palestina juga menggambarkan situasi kesehatan yang sangat buruk di Gaza, di mana serangan Israel telah menyebabkan sebagian besar penduduk kehilangan tempat tinggal, hidup tanpa listrik, makanan, atau air bersih, dan sistem medis yang terancam ambruk.

“Saya harus jujur kepada Anda. Tugas-tugas ini hampir tidak mungkin dilakukan dalam situasi saat ini,” kata Tedros. Namun, ia memuji negara-negara yang telah menemukan titik temu, dan mengatakan bahwa itu adalah pertama kalinya mosi PBB disetujui secara konsensus sejak konflik dimulai.

Mustafa Barghouti, seorang politisi Palestina yang mengepalai Persatuan Komite Bantuan Medis Palestina yang memiliki 25 tim yang bekerja di Gaza, mengatakan, “Setengah dari penduduk Gaza sekarang kelaparan.”

Ia menambahkan bahwa sebanyak 350.000 orang menderita infeksi, termasuk 115.000 orang yang menderita infeksi saluran pernapasan parah. Mereka juga kekurangan pakaian hangat, selimut dan perlindungan dari hujan, katanya.

Kantor berita Reuters, pada Senin (11/12), melaporkan sejumlah menteri luar negeri Uni Eropa hari Minggu mengatakan akan mempertimbangkan opsi-opsi yang memungkinkan untuk menanggapi krisis Timur Tengah, termasuk tindakan keras terhadap keuangan Hamas dan larangan bepergian bagi para pemukim Israel yang bertanggung jawab atas kekerasan di Tepi Barat. [em/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com