Iran Kecam Normalisasi dengan Israel sebagai Tindakan ‘Reaksioner’

Presiden Iran Ebrahim Raisi mengecam segala upaya oleh negara di kawasan Timur Tengah untuk menormalisasi hubungan dengan musuh bebuyutannya, Israel, sebagai tindakan yang “reaksioner dan regresif.”

Pernyataan pada hari Minggu (1/10) itu disampaikan di tengah negosiasi antara Israel dan Arab Saudi – yang dimediasi AS – untuk menjalin hubungan resmi. Amerika Serikat, pada Jumat (29/9), mengatakan bahwa kedua negara itu sedang menjajaki garis besar kesepakatan.

“Normalisasi hubungan dengan rezim Zionis merupakan langkah yang reaksioner dan regresif bagi pemerintah mana pun di dunia Islam,” kata Raisi dalam konferensi Islam internasional yang diadakan di Teheran.

Delegasi Israel diperkirakan tiba pada hari Minggu di Arab Saudi, beberapa hari setelah kunjungan resmi pertama menteri Israel ke kerajaan tersebut.

Arab Saudi juga untuk pertama kalinya dalam tiga dekade mengirim delegasinya pada hari Rabu (27/9) ke Tepi Barat yang diduduki Israel, dalam upaya untuk meyakinkan Palestina menjelang prospek kesepakatannya dengan Israel.

Lebih jauh, Raisi menyebut upaya normalisasi dengan Israel merupakan “keinginan asing,” sambil menyatakan bahwa “menyerah dan berkompromi” soal Israel bukanlah pilihan.

“Satu-satunya pilihan bagi semua pejuang di wilayah pendudukan dan dunia Islam adalah melawan dan menentang musuh,” ungkapnya, sambil menegaskan kembali sikap Iran bahwa Yerusalem harus “dibebaskan.”

Pada tahun 1967, Israel menduduki dan kemudian mencaplok Yerusalem timur – daerah yang dianggap oleh bangsa Palestina sebagai ibu kota masa depan negara yang mereka usulkan.

Jika tercapai, kesepakatan antara Israel dan Arab Saudi akan mengikuti jejak Perjanjian Abraham yang dimediasi AS, yang membuat Israel menjalin hubungan diplomatik dengan tiga negara Arab pada 2020.

Bulan lalu, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, Raisi mengatakan, “hubungan apa pun antara negara-negara kawasan dengan rezim Zionis akan menjadi tikaman bagi Palestina.”

Iran yang didominasi Syiah dan Arab Saudi yang mayoritas Sunni – dua kekuatan di kawasan – memulihkan hubungan mereka yang terputus sejak 2016 melalui sebuah kesepakatan yang dimediasi oleh China pada Maret lalu. [rd/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com