Dukungan AS untuk Melawan Hamas Tetap Kuat

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Selasa (12/12) menyatakan telah mendapat dukungan penuh AS terhadap serangan darat yang sedang berlangsung di Gaza melawan militan Hamas, dan pada saat yang sama, kedua negara tetap tegas terhadap seruan internasional yang semakin meningkat untuk melakukan gencatan senjata untuk menghentikan perang Israel-Hamas.

“Saya sangat menghargai dukungan Amerika untuk menghancurkan Hamas dan mengembalikan sekitar 140 sisa sandera” yang ditangkap oleh Hamas dalam serangan tanggal 7 Oktober. Serangan itu menewaskan sekitar 1.200 warga di Israel selatan, kata pemimpin Israel itu.

“Setelah dialog intensif dengan Presiden [Joe] Biden dan timnya, kami menerima dukungan penuh untuk serangan darat dan menghalangi tekanan internasional untuk menghentikan perang,” kata Netanyahu.

Namun Netanyahu mengakui bahwa dia dan Biden tidak sepakat mengenai siapa yang akan memerintah Gaza ketika perang berakhir.

“Saya berharap kita juga akan mencapai kesepakatan di sini,” kata Netanyahu.

Biden Desak Solusi Jangka Panjang Konflik Israel-Palestina

Pada acara kampanye pemilihan kembali di Amerika Serikat, Biden mengatakan Netanyahu harus mengambil keputusan sulit, seraya menyatakan ini adalah pemerintahan paling konservatif dalam sejarah Israel dan tidak menginginkan solusi dua negara, dengan pemerintahan independen Israel dan Palestina yang berdampingan.

Biden mengatakan Israel mulai kehilangan dukungan di seluruh dunia, dan Netanyahu “harus memperkuat dan mengubah” pemerintahan Israel untuk menemukan solusi jangka panjang terhadap konflik Israel-Palestina.

Biden telah mengusulkan agar Otoritas Palestina yang didukung Barat di bawah Presiden Mahmoud Abbas mengambil kendali atas Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel setelah perang. Namun Netanyahu mengatakan Gaza “tidak akan menjadi wilayah kekuasaan Hamas atau Fatah.” Fatah adalah faksi Abbas di Palestina.

Pernyataan Netanyahu yang menyatakan berlanjutnya dukungan AS itu disampaikan ketika Majelis Umum PBB bersiap melangsungkan pertemuan darurat pada hari Selasa untuk membahas rancangan resolusi yang menuntut gencatan senjata kemanusiaan segera di Gaza, yang ditentang oleh AS dan Israel.

Resolusi tersebut mengungkapkan “keprihatinan besar atas situasi kemanusiaan yang sangat buruk di Jalur Gaza dan penderitaan penduduk sipil Palestina” dan menekankan perlunya melindungi warga sipil Israel dan Palestina berdasarkan hukum internasional. [lt/em]

Sumber: www.voaindonesia.com