Doa Bagi Palestina, Dua Ribu Orang Salat Jumat di National Mall Washington, DC

Berkhotbah di depan para jemaah sebelum salat Jumat (20/10), Dr. Omar Suleiman, mengajak untuk mendoakan mereka yang disebutnya “mati syahid,” terutama perempuan dan anak-anak “yang menjadi syuhada dalam perang Israel-Palestina.”

Ia menyerukan doa bagi yang telah meninggal dan berjuang bagi mereka yang bertahan. Menurutnya doa adalah yang paling dapat dilakukan semua orang, tidak saja warga Muslim, bagi Palestina, “karena ini soal kemanusiaan.”

Dr. Omar Suleiman, mengajak kau Muslimin dan siapa saja untuk mendoakan mereka yang sedang berjuang di Palestina, Jumat (20/10). (Foto: VOA/Eva M.)

Banyak Jemaah Meneteskan Air Mata

Sejumlah warga Yahudi Ortodoks dan warga Amerika kebanyakan tampak berdiri di luar barisan jemaah salat Jumat, menunjukkan rasa simpati. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam saat warga Muslim salat Jumat. Sebagian membawa bunga mawar merah. Banyak jemaah yang tidak kuasa menahan air mata saat imam salat melantunkan ayat-ayat suci Al Quran.

Salman Youssef, warga AS asal Pakistan: "Kita hanya bisa meminta pada Allah SWT untuk menolong warga Palestina." (Foto: VOA/Eva M.)

Salman Youssef, warga AS asal Pakistan: “Kita hanya bisa meminta pada Allah SWT untuk menolong warga Palestina.” (Foto: VOA/Eva M.)

Salah seorang diantaranya adalah Salman Youssef yang berasal dari Pakistan, dan berbicara kepada VOA seusai salat.

“Saat salat tadi saya membayangkan wajah anak-anak Palestina dan ibu mereka, warga lansia, semua. Mereka kelaparan, tidak punya lagi tempat tinggal, tidak tahu harus ke mana, ini benar-benar meremukkan hati saya. Dan dunia hanya berdiam diri.”

“Kita hanya bisa meminta pada Allah SWT, tidak pada yang lain. Saya percaya akan datang keajaiban karena Allah SWT adalah Sang Pemilik, Sang Maha Kuasa. Kita berharap pada belas kasih-Nya,” harap laki-laki yang sudah 22 tahun tinggal di Amerika ini.

Tunjukkan Simpati, Warga AS Serukan Perdamaian

Becky, warga Arlington, Virginia, yang datang jauh sebelum salat Jumat dimulai dan mengenakan jubah berwarna hijau dengan bendera Palestina berukuran kecil, mengatakan “sangat ingin menunjukkan dukungan pada perdamaian.”

“Saya ingin warga Palestina hidup dalam damai. Saya juga ingin warga Israel hidup dalam damai. Saya ingin kita semua punya hati pada kemanusiaan. Saya kira suara rakyat Palestina tidak cukup didengar, padahal apa yang terjadi di sana sangat mengerikan, dan ada standar ganda. Ini harus dihentikan. Lihat banyaknya warga Yahudi yang juga datang dalam acara ini, dan mereka terang-terangan mengatakan mereka juga tidak menghendaki aksi kekerasan ini, tidak atas nama mereka,” ujar Becky, yang menolak memberikan nama belakangnya tetapi bersedia difoto.

Hal yang kurang lebih sama disampaikan Aleyda Canella, warga Amerika keturunan Italia, yang datang bersama teman-temannya.

Aleyda Canella, warga Amerika keturunan Italia, ikut datang bersama puluhan teman-temannya. (Foto: VOA/Eva M.)

Aleyda Canella, warga Amerika keturunan Italia, ikut datang bersama puluhan teman-temannya. (Foto: VOA/Eva M.)

“Kami ikut datang untuk menunjukkan simpati pada warga Palestina yang kini sedang menghadapi genosida. Kami ingin mereka tahu bahwa kami menentang hal ini.”

Sementara Aaron Nelson, warga Amerika keturunan Vietnam, menolak narasi bahwa Israel menyerang Gaza sebagai pembalasan terhadap serangan Hamas pada 7 Oktober lalu.

“Jangan berpura-pura seakan-akan hal ini baru terjadi sekarang. Serangan Israel sudah berlangsung sejak tahun 1948.”

Aaron Huy Nelson, warga AS keturunan Vietnam: Konflik Israel-Palestina sudah berlangsung puluhan tahun, "jangan berpura-pura bahwa ini konflik baru. (Foto: VOA/Eva M.)

Aaron Huy Nelson, warga AS keturunan Vietnam: Konflik Israel-Palestina sudah berlangsung puluhan tahun, “jangan berpura-pura bahwa ini konflik baru. (Foto: VOA/Eva M.)

“Mungkin pemerintah atau siapa pun dapat menyampaikan narasi seperti itu pada warga Amerika yang tidak pernah mengalami hal seperti ini, atau tidak punya teman dan sanak saudara yang menjadi korban perang. Tetapi tidak pada kami, atau warga di sini, yang mengalami langsung hal ini, atau memiliki saudara yang sedang berjuang mengatasi kekerasan di negara asalnya, atau mereka yang memang melek informasi. Karena bagi kami ini realitas yang nyata, bukan topik sesaat,” tandas anak muda berusia 21 tahun yang tinggal di Washington DC ini.

Dua Anggota DPR AS Ikut Bicara, Serukan Gencatan Senjata

Dua anggota DPR AS ikut bicara sesuai salat Jumat, yaitu Rashida Thlaib dari negara bagian Michigan dan Cori Bush dari negara bagian Missouri. Dengan lantang Bush, yang dikenal sebagai politisi kulit hitam terkemuka dan aktivis Black Lives Matter, mengatakan “Anda harus tahu bahwa Anda tidak sendirian! Saya berdiri bersama Anda. Banyak yang berdiri bersama Anda dan siap mengambil tindakan karena ini soal kemanusiaan.”

Bush mengutuk apa yang disebutnya sebagai “collective punishment” terhadap warga Palestina di Gaza.

“Saya berada di sini, kita berada di sini, untuk menunjukkan konsistensi kita pada kemanusiaan. Oleh karena itu mari kita serukan gencatan senjata. Gencatan senjata sekarang juga!” teriaknya, diikuti oleh massa.

Sementara Rashida Thlaib, yang memang berasal dari keluarga Palestina, mengatakan sangat terharu melihat salat Jumat dan aksi damai yang dilakukan ribuan orang.

Anggota DPR AS keturunan Palestina, Rashid Tlaib ikut berbicara usai salat Jumat (20/10) di National Mall, Washington, DC. (Foto: VOA/Eva M.)

Anggota DPR AS keturunan Palestina, Rashid Tlaib ikut berbicara usai salat Jumat (20/10) di National Mall, Washington, DC. (Foto: VOA/Eva M.)

“Kita berasal dari seluruh pelosok Amerika, dari beragam latar belakang, ini sangat luar biasa, sama seperti ketika ratusan teman dari kelompok Yahudi melakukan unjuk rasa di DPR beberapa hari lalu,” ujarnya merujuk pada 300an pengunjukrasa yang datang ke Kongres untuk menyerukan gencatan senjata di Gaza.

Rashida, yang merupakan anak sulung dari 14 anak keluarga pekerja Palestina yang bermigrasi ke Detroit puluhan tahun lalu, kembali ikut menyerukan gencatan senjata. Ia mengklaim 80% anggota Kongres yang berasal dari faksi Demokrat, 57% dari kelompok independen, dan 56% dari faksi Republik menginginkan gencatan senjata.

“Saya memang warga Amerika, tetapi saya juga orang Palestina. Saya tidak akan tinggal diam melihat genosida yang terjadi di Palestina,” ujarnya dengan suara bergetar.

Muhammad Kassim, warga Amerika asal Ethiopia, yang datang bersama dua putranya, setuju dengan seruan gencatan senjata yang disampaikan kedua anggota DPR AS itu. Demikian pula Jim Haber, yang khusus terbang dari San Fransisco untuk mengikuti aksi damai bagi Palestina ini. Keduanya sama-sama menggarisbawahi perlunya diambil langkah nyata untuk menyelamatkan warga sipil di tengah konflik bersenjata antara Israel-Hamas. “Sudah saatnya Amerika mendesak diberlakukannya gencatan senjata, supaya bantuan kemanusiaan bisa masuk dan menyelamatkan warga Palestina,” ujar Kassim. Sementara Jim menutup wawancara dengan satu kalimat pendek, “sudah saatnya pemerintah berbuat baik, berbuat baik pada sesama manusia.”

Aksi unjuk rasa damai bagi Palestina yang berlangsung seusai salat Jumat itu berakhir sekitar pukul empat sore. Sejumlah massa masih bertahan di sekitar lapangan National Mall, meski hujan rintik-rintik mulai membasahi Washington DC.

Hingga laporan ini disampaikan sedikitnya 1.400 warga di Israel tewas akibat serangan Hamas. Sementara hampir 4.000 warga di Palestina tewas akibat serangan balasan Israel. [em/pp]

Simak juga video liputan berikut

Sumber: www.voaindonesia.com