Di Gaza, Sebuah Sekolah yang Dibangun PBB Jadi Tempat Berlindung

Jinan al-Attar mengatakan ia sedang menyiapkan pernikahan saudara perempuannya ketika serangan udara mulai menghantam kawasan tempat tinggalnya di Gaza.

“Saya sedang membuat manisan untuk ” pernikahan saudara perempuan saya, ketika serangan udara terjadi. Kami segera meninggalkan rumah. Kami duduk berhimpitan di dalam mobil, dan kami langsung menuju gedung sekolah ini,” jelasnya.

Jinan adalah satu dari ratusan orang yang mencari perlindungan bersama keluarganya di sekolah yang dibangun UNRWA atau Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB di Gaza.

Sekolah yang dikelola PBB, di Kota Gaza menjadi tempat berlindung bagi warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka di tengah serangan Israel, 8 Oktober 2023. (REUTERS/Mohammed Salem)

Tapi tinggal di sekolah itu bukanlah hal yang menyenangkan, kata remaja berusia 14 tahun itu. Tempat itu padat, dan tak layak sebagai tempat tinggal. “Saat bangun pagi, biasanya saya mencuci muka, tapi tidak ada air. Untuk mandi pun tidak ada air. Kami mengecek dari satu kamar kecil ke kamar kecil lainnya untuk mencari air. Sungguh tidak enak tinggal di sini, mungkin lebih nyaman tinggal di rumah,” lanjutnya.

Namun Jinan mengakui, pulang bukanlah pilihan. Ia menceritakan, pamannya memutuskan kembali ke rumah karena tidak betah dan menemui ajalnya. Serangan udara Israel rupanya menghantam rumah mereka.

Israel menyatakan tidak akan menghentikan pengepungannya di Jalur Gaza sampai semua sandera Israel dibebaskan. Ini artinya, semua suplai air, makanan dan listrik terhenti sepenuhnya.

Sebagian warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka di tengah serangan Israel, berlindung di sekolah yang dikelola PBB, di Kota Gaza, 8 Oktober 2023. (REUTERS/Mohammed Salem)

Sebagian warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka di tengah serangan Israel, berlindung di sekolah yang dikelola PBB, di Kota Gaza, 8 Oktober 2023. (REUTERS/Mohammed Salem)

Pihak berwenang Israel juga menegaskan, alasan kemanusiaan juga tidak akan dipertimbangkan sampai tuntutannya mengenai sandera Israel terpenuhi. Sebelumnya, Palang Merah Internasional meminta agar bahan bakar diizinkan masuk ke Gaza untuk mencegah rumah-rumah sakit yang kewalahan melayani pasien berubah menjadi tempat-tempat penampungan mayat.

Israel telah bersumpah akan memusnahkan kelompok Hamas yang menguasai Jalur Gaza sebagai pembalasan atas serangan paling mematikan terhadap orang-orang Yahudi sejak Holocaust, ketika ratusan militan Hamas yang bersenjata melintasi pagar-pagar pembatas dan mengamuk di kota-kota Israel pada hari Sabtu lalu.

Pihak berwenang Gaza mengatakan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 5.000 orang terluka dalam pemboman Israel. Satu-satunya instalasi pembangkit listrik di Gaza telah dimatikan dan rumah-rumah sakit kehabisan bahan bakar untuk mengoperasikan generator mereka.

Kakek Jinan, Naeem al-Attar, menyerukan adanya bantuan internasional untuk penduduk Gaza.

“Kami menyerukan kepada semua negara Arab dan semua negara lainnya untuk membantu menghentikan pemboman di Gaza. Setiap hari semakin banyak yang meninggal, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa jumlah yang meninggal kurang dari 50 orang. Setiap hari mereka menembaki warga sipil, anak-anak, perempuan dan orang tua. Kami tidak tahu ke mana harus pergi, kami tinggal di sini, di sekolah ini.” [ab/ka]

Sumber: www.voaindonesia.com