Debat Terakhir Kandidat Capres Partai Republik

Ketika mereka berkumpul sebulan yang lalu, ada lima orang yang berdebat.

Kini dengan kualifikasi yang lebih ketat, para kandidat yang akan mengikuti debat keempat telah mengerucut menjadi empat orang. Masing-masing akan memiliki dua tujuan penting, yaitu keluar dari kelompoknya dan tidak mengasosiasikan diri mereka dengan mantan Presiden Donald Trump. Jadi dalam debat Rabu malam ada lebih banyak serangan terhadap Trump. Mantan Gubernur New Jersey Chris Christie telah dicap sebagai kandidat “tidak akan pernah menjadi Trump”, namun kandidat-kandidat lainnya menghindar untuk tidak membuat marah basis pemilih Trump.

Pakar politik di Emory University, Andra Gillespie, mengatakan, “Saya pikir pertanyaan dan tantangan dalam debat keempat ini adalah mengidentifikasi apa saja isu dan kekhawatiran kelompok non-Trump di dalam Partai Republik, jadi baik sayap partai yang jelas-jelas anti-Trump atau orang-orang yang memilih Trump, karena dia adalah calon dari Partai Republik, tetapi mereka tidak terikat dengannya, dan mereka mungkin terbuka terhadap saran untuk memilih orang lain. Terutama jika Trump mulai terlihat terlalu kewalahan karena semua masalah hukum yang dihadapinya.”

Terlepas dari masalah-masalah hukum, yang mencakup 91 dakwaan kejahatan, Trump tetap calon paling unggul. Jajak pendapat minggu lalu menunjukkan elektabilitas Trump mencapai 60%, mengungguli Gubernur Florida Ron DeSantis dan mantan Duta Besar AS Untuk PBB Nikki Halley.

Namun, untuk keempat kalinya Trump kembali memilih tidak akan mengikuti debat ini.

Dari kiri: Nikki Haley, Ron DeSantis, dan Vivek Ramaswamy saat berdebat Nov. 8, 2023 di Miami, Florida pada 8 November 2023 lalu.

Satu hal baru yang juga akan menjadi topik debat nanti adalah soal pembebasan sandera Israel oleh Hamas. Keempat kandidat capres ini tampak mendukung Israel.

Mereka diperkirakan akan menyalahkan Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat karena tidak merundingkan pembebasan lebih banyak warga Amerika. Mereka juga bisa berbeda pendapat tentang taktik perang.

Direktur Urusan Debat di Universitas Michigan, Aaron Kall, mengatakan, “Saya pikir meskipun akan ada pertanyaan tentang gencatan senjata dan perlu tidaknya hal itu. Juga untuk tetap mengupayakan pembebasan lebih banyak sandera. Jika itu tidak berhasil, mereka harus mengizinkan agar operasi ofensif di Gaza dapat terus berjalan. Jadi hanya taktik yang buruk untuk mendapatkan hasil yang terbaik.”

Para kandidat akan memiliki waktu dua jam untuk berbicara kepada para pemilih Partai Republik. Pemungutan suara dalam kaukus di negara bagian Iowa, yang pertama dalam tahap pilpres AS kali ini, akan dilangsungkan pada 15 Januari. Sementara pemilihan pendahuluan atau primary pertama akan diselenggarakan di New Hampshire pada 23 Januari. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com