Bantuan Masuk ke Gaza, PBB Ingatkan Kekurangan Bahan Bakar

Konvoi bantuan kedua memasuki Gaza, Minggu (22/10), ketika persediaan mulai menipis. Konvoi yang terdiri dari sekitar 19 truk bantuan diizinkan masuk, menurut sumber keamanan dan kemanusiaan Mesir.

Dalam acara TV ABC “This Week,” direktur eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP), Cindy McCain, mengatakan bahwa 17 truk lagi berisi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza pada Minggu dan 40 truk lainnya diperkirakan tiba pada Senin. Dia menekankan bahwa kebutuhan akan bantuan lebih banyak, sangat besar.

“Kemarin kami mampu menyeberangkan 20 truk. Dan dari total 20 truk itu, tiga di antaranya adalah milik WFP. Jadi, kami bisa memberi makan sekitar 200.000 orang tadi malam untuk makan malam. Tetapi itu tidak cukup. Itu hanya setetes (bantuan). Kami membutuhkan akses yang aman dan berkelanjutan di sana, di wilayah itu, supaya kami bisa mengirim bantuan. Bencana sedang terjadi dan kami harus memasukkan truk-truk bantuan ini,” kata McCain.

Warga Gaza mengatakan mereka kehabisan makanan, air dan pasokan medis penting di wilayah di mana Israel memberlakukan “pengepungan total” pasca serangan militan Hamas yang menewaskan 1.400 orang. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pembalasan Israel telah menewaskan sedikitnya 4.300 warga Palestina.

Penduduk Gaza Shady Al-Aqqad menyerukan solusi terhadap krisis pasokan.

“Jika situasi berlanjut, seluruh penduduk tidak akan mendapatkan makanan atau minuman. Kami tidak akan menemukan roti atau tepung, apa pun. Situasinya semakin buruk. Kita perlu menemukan solusi. Ini tidak adil. Kondisi sebagian orang sangat buruk, sebagian lagi mengungsi, dan mereka tidak bisa makan atau minum,” tukasnya.

Badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan bahwa mereka akan kehabisan bahan bakar pada Rabu.

“Tanpa bahan bakar, tidak akan ada air, tidak ada rumah sakit dan tidak ada toko roti yang beroperasi,” ujar Philippe Lazzarini, komisaris jenderal badan tersebut. “Tanpa bahan bakar, bantuan tidak akan sampai ke banyak warga sipil yang sangat membutuhkan. Tanpa bahan bakar, tidak akan ada bantuan kemanusiaan.”

Lazzarini mengatakan, UNRWA “adalah aktor kemanusiaan terbesar di Jalur Gaza.” Badan tersebut, menurut Lazzarini, kini sedang membantu lebih dari setengah juta dari satu juta orang yang mengungsi di Jalur Gaza.

Ia menambahkan, “tanpa bahan bakar, kita akan mengecewakan rakyat Gaza yang kebutuhannya terus meningkat setiap saat.” Ia mengimbau semua pihak dan pihak-pihak yang mempunyai pengaruh dalam hal ini agar segera mengizinkan pasokan bahan bakar ke Jalur Gaza dan memastikan bahwa penggunaan bahan bakar dibatasi untuk mencegah gagalnya respons kemanusiaan,” kata Lazzarini.

Para pejabat Palestina menyatakan kekecewaannya karena Gaza tidak menerima pasokan bahan bakar. “Tidak memasukkan bahan bakar dalam bantuan kemanusiaan berarti nyawa pasien dan korban luka akan tetap berisiko. Rumah sakit-rumah sakit di Gaza kehabisan kebutuhan dasar untuk melakukan intervensi medis,” kata Kementerian Kesehatan Gaza. Ia menambahkan bahwa bantuan itu hanya 3% dari bantuan kemanusiaan yang biasa dikirim ke Gaza sebelum konflik.

PBB telah menekan Israel dan Mesir untuk mengizinkan bantuan mengalir dengan bebas ke Gaza, di mana ratusan ribu orang membutuhkan bantuan setelah dua minggu pemboman dan blokade ketat terhadap makanan dan bahan bakar oleh Israel. PBB mengatakan bantuan itu akan diterima dan didistribusikan Bulan Sabit Merah Palestina, dengan persetujuan Hamas, yang menguasai Gaza. [ka/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com