Austin Menuju ke Timur Tengah, Israel di Bawah Tekanan untuk Lindungi Warga Sipil

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin melakukan perjalanan ke Timur Tengah dalam upaya untuk memperkuat keamanan regional sementara Israel melanjutkan perangnya melawan Hamas. Israel menghadapi tekanan yang semakin besar untuk melindungi warga sipil dalam operasi militernya dan menjamin pembebasan semua sandera yang diculik dalam serangan teroris Hamas pada 7 Oktober.

Israel, Qatar dan Bahrain adalah beberapa negara yang diperkirakan akan dikunjungi oleh Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dalam beberapa hari mendatang. Pengumuman ini muncul ketika semakin banyak laporan mengenai kehancuran dan keputusasaan warga di Gaza pada hari Minggu. Dalam konteks ini, beberapa anggota Kongres AS mendesak Israel untuk melindungi warga sipil saat negara itu melancarkan perang melawan Hamas.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat Debbie Dingell berbicara dalam wawancara di program jaringan televisi NBC “Meet the Press.” “Enam hingga delapan ribu anak terbunuh, 85 persen penduduk Gaza harus meninggalkan rumah mereka. Mereka tinggal di tempat-tempat penampungan, penyakit meningkat,” jelasnya.

Sementara Senator Demokrat Chris Van Hollen muncul di acara jaringan ABC “This Week.”

“Terkait dengan krisis kemanusiaan, saat ini Gaza masih dikepung total. Hari ini mungkin ada sedikit kemajuan. Israel akhirnya membuka pelintasan Karem Shalom yang merupakan pelintasan sangat penting. Seharusnya tidak makan waktu selama ini,” komentarnya.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant bertemu, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan kelompok Islam Palestina Hamas, di Tel Aviv, Israel 18 Desember 2023. (REUTERS/Phil Stewart)

Senator Republik Lindsey Graham, yang diwawancarai di jaringan televisi NBC, juga menyatakan harapannya agar Israel membatasi kematian warga sipil dan mendorongnya untuk memikirkan masa depan.

“Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya tidak dapat melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, jika mereka dipersepsikan sebagai menjerumuskan warga Palestina,” sebutnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menghadapi kritik yang semakin meningkat di dalam negeri atas krisis penyanderaan yang dimulai pada 7 Oktober ketika Hamas melakukan serangan teroris yang mematikan dan menculik lebih dari 240 warga Israel dan warga asing.

Pekan lalu, tiga sandera secara tidak sengaja dibunuh oleh Pasukan Pertahanan Israel dan pemakaman salah satu dari mereka diadakan pada hari Minggu.

Kerabat para sandera lainnya mulai berkemah di dekat Kementerian Pertahanan Israel dan menuntut negosiasi untuk menjamin pembebasan mereka.

Sharon Kalderon, adik ipar Ofer Kalderon, salah seorang sandera, mengatakan,
“Kami ingin mereka keluar hidup-hidup. Jadi inilah alasan kami berada di sini, setiap hari, sampai kami mendengar dari pemerintah bahwa mereka duduk bersama dan melakukan perundingan.”

Hamas mengatakan pihaknya tidak akan melepaskan sandera lagi sampai serangan Israel berhenti. Namun, Qatar, yang selama ini bertindak sebagai negara mediator dalam konflik tersebut, tidak menyerah pada upaya diplomatik untuk memperbarui jeda kemanusiaan. [lt/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com