AS Unjuk Kekuatan Militer Bersama Korsel dan Jepang Setelah Peluncuran Rudal Korut

Amerika Serikat menerbangkan sebuah bomber jarak jauh untuk latihan bersama dengan Korea Selatan dan Jepang pada Rabu (20/12) sebagai unjuk kekuatan terhadap Korea Utara. Ini dilakukan beberapa hari setelah Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) pertamanya dalam lima bulan terakhir.

Pelatihan trilateral di pulau Jeju di Korea Selatan dimaksudkan untuk memperkuat respons bersama negara-negara tersebut terhadap ancaman nuklir Korea Utara, kata Kepala Staf Gabungan Militer Korea Selatan dalam sebuah pernyataan.

Latihan tersebut melibatkan sebuah bomber B-1B serta jet-jet tempur Korea Selatan dan Jepang, kata pernyataan itu. Pernyataan tersebut juga menjelaskan ini adalah ke-13 kalinya pesawat pengebom AS, B-1B, diterbangkan di dekat dan di atas Semenanjung Korea pada tahun ini.

B-1B mampu membawa muatan senjata konvensional dalam jumlah besar. Korea Utara sebelumnya menyebut pengerahan bomber tersebut sebagai bukti permusuhan AS dan bereaksi dengan uji coba rudal.

Latihan peluncuran rudal balistik antarbenua Hwasong-18 di lokasi yang tidak diketahui pada 18 Desember 2023. (Foto: KCNA via Reuters)

Korea Utara pada Senin meluncurkan ICBM Hwasong-18 ke laut dalam sebuah latihan yang dikatakan bertujuan sebagai peringatan atas langkah-langkah konfrontatif Amerika dan Korea Selatan. Korea Utara menyebut pertemuan AS-Korea Selatan baru-baru ini untuk membahas rencana pencegahan nuklir mereka.

AS, Korea Selatan, dan Jepang mengecam peluncuran tersebut sebagai sebuah provokasi, dan menyatakan bahwa peluncuran tersebut melanggar beberapa resolusi Dewan Keamanan PBB yang melarang aktivitas balistik apa pun oleh Korea Utara.

Hwasong-18, rudal berbahan bakar padat, adalah ICBM terbaru dan tercanggih milik Korea Utara. Propelan padat yang ada di dalamnya membuat peluncuran lebih sulit dideteksi dibandingkan dengan rudal berbahan bakar cair, yang harus menggunakan bahan bakar untuk lepas landas.

Peluncuran hari Senin ini adalah peluncuran ketiga Hwasong-18 tahun ini.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengatakan peluncuran tersebut menunjukkan bagaimana Korea Utara dapat merespons jika Amerika Serikat membuat “keputusan yang salah terhadap peluncuran tersebut.”

Namun, banyak pakar asing mengatakan Korea Utara masih memiliki kendala teknologi yang harus diatasi agar bisa memiliki ICBM bersenjata nuklir yang dapat menghantam benua Amerika.

Tahun ini saja, Korea Utara telah melakukan sekitar 100 uji coba rudal balistik dalam apa yang oleh para ahli disebut sebagai upaya untuk memodernisasi persenjataan nuklirnya dan meraih konsesi yang lebih besar dari AS.

Sebagai tanggapan, AS dan Korea Selatan memperluas latihan militer mereka, memperkuat kerja sama keamanan dengan Jepang, dan meningkatkan penempatan sementara aset militer AS yang kuat seperti pesawat pengebom dan kapal selam bertenaga nuklir di Korea Selatan. [ab/uh]

Sumber: www.voaindonesia.com