AS Pertimbangkan Produksi Senjata Bersama dengan Taiwan

Pemerintah Amerika Serikat (AS) sedang mempertimbangkan rencana untuk bersama-sama memproduksi senjata dengan Taiwan, kata sebuah lobi bisnis pada Rabu (19/10). Prakarsa ini dimaksudkan untuk mempercepat transfer senjata guna meningkatkan tindakan pencegahan Taipei terhadap China.

Presiden-presiden AS telah menyetujui penjualan senjata senilai lebih dari $20 miliar ke Taiwan sejak 2017 karena China telah meningkatkan tekanan militernya terhadap pulau berpemerintahan demokratis itu yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya.

Namun, Taiwan dan Kongres AS telah memperingatkan tentang penundaan pengiriman senjata terkait kesulitan dalam rantai pasokan dan keterlambatan karena meningkatnya permintaan sejumlah sistem pertahanan akibat perang di Ukraina.

“Ini persis terjadi pada awal proses,” kata Rupert Hammond-Chambers, Presiden Dewan Bisnis AS-Taiwan mengenai rencana itu. Banyak di antara anggota Dewan itu adalah kontraktor pertahanan AS.

Hammond-Chambers mengatakan belum ditentukan senjata apa yang akan termasuk rencana itu, meskipun kemungkinan besar fokusnya adalah memberi Taiwan lebih banyak amunisi dan teknologi rudal yang telah lama ada.

Namun, ia memperingatkan bahwa langkah semacam itu akan membuat produsen senjata wajib mendapatkan lisensi produksi bersama dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS. Hammond-Chambers menambahkan mungkin ada penolakan di dalam pemerintah AS untuk mengeluarkan lisensi produksi bersama karena sulitnya menyetujui teknologi penting untuk platform asing.

Kementerian Luar Negeri Taiwan menolak berkomentar, tetapi menekankan bahwa hubungan Taiwan-AS “dekat dan bersahabat.”

Beberapa kemungkinan dalam rencana ini akan mencakup penyediaan teknologi oleh AS untuk memproduksi senjata di Taiwan, atau memproduksi senjata di AS dengan menggunakan suku cadang Taiwan, lapor surat kabar Nikkei Jepang.

Ketika ditanya mengenai rencana itu, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan, “AS sedang meninjau semua opsi untuk memastikan transfer kemampuan pertahanan secara cepat ke Taiwan.” [uh/ab]

Sumber: www.voaindonesia.com