AS Desak Israel Lindungi Warga Sipil di Gaza

Sejumlah pejabat pemerintah Amerika meningkatkan desakan terhadap Israel untuk melakukan lebih banyak hal guna mencegah warga sipil di Gaza menjadi korban serangannya, saat kembali Israel memulai kembali pertempuran di Jalur Gaza pada hari Minggu (3/12).

Kota Khan Younis di bagian selatan Gaza elah menjadi sasaran serangan tanpa henti militer Israel sejak berakhirnya gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan Hamas Jumat lalu (1/12).

Menurut Associated Press, Israel telah memperluas perintah evakuasi ketika serangannya bergeser ke bagian selatan Gaza, di mana banyak pemimpin Hamas bersembunyi.

Netanyahu: Perang Yang Sulit Ada di Depan Kita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Sabtu (2/12) mengatakan kampanye serangan ini akan berlangsung hingga semua sandera yang disandera oleh Hamas dalam serangan 7 Oktober lalu terhadap Israel dikembalikan dan Hamas dihancurkan. “Sebuah perang yang sulit ada di depan kita,” katanya.

Wapres AS: Hukum Kemanusiaan Internasional Harus Dihormati

Namun Wakil Presiden Amerika Kamala Harris mengatakan, “Saat Israel mempertahankan diri, satu hal penting yang harus diingat adalah bagaimana caranya. Sikap Amerika tegas. Hukum kemanusiaan internasional harus dihormati. Terlalu banyak warga Palestina yang tidak bersalah telah terbunuh. Terus terang, skala penderitaan warga sipil dan gambar-gambar serta video yang datang dari Gaza sangat mengerikan.”

Harris berbicara dari forum KTT Iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Menhan AS Ingatkan Israel untuk Senantiasa Lindungi Warga Sipil

Sementara Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengatakan meskipun “dukungan AS untuk keamanan Israel tidak dapat ditawar,” ia secara pribadi telah memperingatkan Israel bahwa jika mereka tidak mengambil langkah-langkah untuk melindungi warga sipil, hal itu akan beresiko pada radikalisasi warga di Gaza. “Dalam pertarungan semacam ini, pusat gravitasi adalah penduduk sipil. Dan jika Anda membuat mereka jatuh ke pelukan musuh, Anda mengganti kemenangan taktis dengan kekalahan strategis,” kata Austin dalam sebuah acara di Reagan National Defense Forum di Simi Valley, California.

Dalam forum yang dihadiri banyak pemimpin politik dan militer, serta lainnya itu, Austin mendesak Israel untuk memperluas secara signifikan akses warga di Gaza untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan. Ia juga kembali menyampaikan seruan Amerika untuk bekerja mencapai solusi dua negara guna menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Total Korban Tewas di Gaza Capai 15.200 Orang

Sedikitnya 200 warga Palestina telah tewas sejak berakhirnya gencatan senjata Israel-Hamas pada Jumat pagi, meningkatkan jumlah korban tewas di Gaza sejak serangan balasan Israel awal Oktober lalu menjadi lebih dari 15.200 orang. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, wilayah yang dikelola Hamas, juga mengatakan lebih dari 40.000 lainnya luka-luka. Tujuh puluh persen korban adalah perempuan dan anak-anak.

Hampir seluruh penduduk Gaza yang berjumlah dua juta jiwa kini berdesakan di bagian selatan wilayah itu. Mereka kehabisan tempat untuk mengungsi dan mencari perlindungan. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB UNRWA memperkirakan bahwa hampir 80% penduduk Gaza telah mengungsi.

Militer Israel Sabtu lalu (2/12) mengatakan mereka telah menghantam lebih dari 400 target Hamas di seluruh Gaza pada hari sebelumnya, dengan menggunakan serangan udara dan penembakan tank-tank dan kapal-kapal angkatan laut. Serangan itu termasuk lebih dari 50 serangan di Khan Younis dan sekitarnya di bagian selatan Gaza.

Sementara di bagian utara Gaza, sebuah serangan udara menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal yang menampung keluarga-keluarga pengungsi di kamp pengungsian Jabaliya di pinggiran Kota Gaza. Warga kota itu, Hamza Obeid dan Amal Radwan, mengatakan kepada Associated Press bahwa serangan terhadap bangunan bertingkat itu menewaskan puluhan orang.

Israel telah memulai kampanye militer untuk membumihanguskan Hamas setelah kelompok militan itu menyerang bagian selatan Israel pada 7 Oktober lalu, menewaskan 1.200 orang dan menyandera 240 lainnya. Amerika, Inggris, Uni Eropa dan beberapa negara Barat lain telah menyatakan Hamas sebagai organisasi teroris. [em/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com