AS dan Inggris Bombardir Houthi yang Terkait dengan Iran di Yaman

Amerika Serikat (AS) dan Inggris menggempur 36 target Houthi di Yaman pada Sabtu (3/2), sebagai tindak lanjut dari operasi besar AS terhadap kelompok yang terkait dengan Iran. Serangan ini merupakan respons terhadap insiden pekan lalu yang melibatkan pasukan AS.

Serangan tersebut menghantam fasilitas penyimpanan senjata, sistem rudal, peluncur dan kemampuan lain yang digunakan Houthi untuk menyerang kapal-kapal di Laut Merah, kata Pentagon. AS menargetkan untuk menyerang 13 lokasi di seluruh negeri.

Serangan yang dilakukan AS dan Inggris merupakan sinyal terbaru atas meluasnya konflik di Timur Tengah sejak perang antara Israel dan Hamas pecah pada 7 Oktober.

“Tindakan kolektif ini mengirimkan pesan yang jelas kepada Houthi bahwa mereka akan terus menanggung konsekuensi lebih lanjut jika mereka tidak mengakhiri serangan ilegal terhadap pelayaran internasional dan kapal angkatan laut,” kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin.

Kapal milik AS Genco Picardy diserang drone pembawa bom yang diluncurkan oleh pemberontak Houthi Yaman di Teluk Aden, Kamis, 18 Januari 2024. (Indian Navy via AP,)

Serangan di Yaman tersebut terjadi bersamaan dengan upaya militer sebagai balasan Washington terhadap pembunuhan tiga tentara AS dalam serangan pesawat tak berawak. Insiden itu dilakukan oleh militan yang didukung Iran di sebuah pos terdepan di Yordania.

Pada Jumat, AS melakukan gelombang pertama serangan pembalasan tersebut, menyerang di Irak dan Suriah terhadap lebih dari 85 sasaran yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dan milisi yang didukungnya. Serangan itu dilaporkan menewaskan hampir 40 orang.

Meskipun Washington menuduh milisi yang didukung Iran menyerang pasukan AS di pangkalan-pangkalan di Irak, Suriah dan Yordania, kelompok Houthi di Yaman yang memiliki hubungan dengan Iran secara teratur menargetkan kapal-kapal komersial dan kapal perang di Laut Merah.

Kelompok Houthi, yang menguasai wilayah paling padat penduduk di Yaman, menyatakan bahwa serangan yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk dukungan terhadap warga Palestina selama Israel menggempur Gaza. Pihak AS dan sekutunya menganggap serangan tersebut tidak membedakan sasaran dan dianggap sebagai ancaman terhadap perdagangan global.

Meskipun ada serangan terhadap kelompok-kelompok yang terkait dengan Iran, Pentagon mengatakan pihaknya tidak ingin berperang dengan Iran dan tidak yakin Teheran juga menginginkan perang. Partai Republik AS meningkatkan tekanan pada Presiden Joe Biden untuk memberikan pukulan langsung terhadap Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan di Irak dan Suriah merupakan “kesalahan besar dan strategis lainnya yang dilakukan Amerika Serikat yang hanya akan mengakibatkan peningkatan ketegangan dan ketidakstabilan.”

Irak memanggil kuasa usaha AS di Bagdad untuk menyampaikan protes resmi setelah serangan di negara itu.

Kantor Berita Yaman (Saba) yang dikelola Houthi mengatakan AS dan Inggris melancarkan 14 serangan pada Sabtu di Provinsi Taiz dan Hodeidah. [ah]

Sumber: www.voaindonesia.com