AS Bekerja dengan Berbagai Pihak untuk Kurangi Eskalasi Konflik Israel-Hamas

Ketika Kabinet Israel mengonfirmasi deklarasi perang, pasukan Israel terus menyerang berbagai sasaran di Gaza pada hari Minggu (8/10) sebagai pembalasan atas serangan mendadak di wilayahnya sehari sebelumnya oleh kelompok militan Hamas.

Kedutaan Besar AS di Israel memperingatkan warga Amerika bahwa situasinya masih “tidak dapat diprediksi” tetapi Washington terus berupaya untuk meredakannya, kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken, ketika tampil pada acara jaringan televisi ABC This Week.

“Saya berbicara di telepon dengan presiden dan menteri luar negeri Israel. Seluruh jajaran pemerintah Israel telah terlibat di seluruh kawasan dan sekitarnya, baik untuk membangun dukungan bagi Israel maupun untuk memastikan bahwa semua negara menggunakan cara apa pun yang mereka miliki, pengaruh apa pun yang mereka miliki untuk menarik kembali Hamas (ke Gaza) dan juga untuk memastikan bahwa konflik ini tidak menyebar ke daerah-daerah lain,” ujar Blinken.

Lebih dari 20.000 orang mencari perlindungan di sekolah-sekolah yang dikelola oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina.

Sementara itu, para kerabat warga sipil Israel yang diduga disandera oleh Hamas mengunjungi kantor polisi untuk memberikan sampel DNA yang dapat membantu pencarian.

Washington juga sedang berupaya memverifikasi berbagai laporan bahwa warga Amerika termasuk di antara mereka yang terbunuh atau disandera oleh Hamas.

Kembali Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan, “Setiap orang Amerika di mana pun yang ditahan atau disandera – itu akan menjadi prioritas pemerintah, pemerintahan ini (untuk mencari mereka).”

Kantor berita Associated Press pada hari Senin (9/10) melaporkan bahwa sedikitnya sembilan warga Amerika tewas dalam serangan Hamas pada hari Sabtu. Dilaporkan bahwa masih ada sejumlah warga negara Amerika yang belum ditemukan, dan hingga kini tidak jelas apakah mereka yang hilang itu disandera, dibunuh, atau bersembunyi.

Jumlah warga negara Amerika yang tewas itu dikukuhkan oleh Matthew Miller, juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

“Saat ini, kami dapat mengukuhkan kematian sembilan warga AS. Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kepada para korban dan keluarga semua yang terkena dampaknya. Kami terus memantau situasi dengan cermat dan tetap berhubungan dengan mitra-mitra kami di Israel dan pemerintah setempat. Kami berhubungan dengan keluarga dan memberikan semua bantuan konsuler yang diperlukan. Kami akan terus memberikan informasi kepada warga AS di wilayah tersebut melalui peringatan di situs web kedutaan kami,” ujar Miller.

Rincian mengenai bagaimana serangan mendadak terhadap Israel itu dilakukan masih belum diketahui, namun calon presiden dari Partai Republik dan mantan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan AS harus memberikan perhatian sepenuhnya pada konflik ini, bahkan di tengah tantangan politik dalam negeri yang dihadapi Amerika.

“Amerika perlu bangun. Kita perlu melupakan hal-hal negatif dan perpecahan ini, dan kita perlu fokus pada keamanan nasional untuk diri kita sendiri dan negara-negara sahabat kita,” kata Halley.

Anggota DPR dari Partai Republik Matt Gaetz, yang baru-baru ini berhasil menggulingkan Ketua DPR Kevin McCarthy, muncul pada acara “Meet the Press” di jaringan televisi NBC. Dia menyatakan optimismenya bahwa kekosongan ketua DPR di Kongres, yang menimbulkan kekhawatiran akan tertundanya paket bantuan untuk Israel, akan terisi dalam waktu dekat.

“Saya pikir kita akan segera bersatu. Saya pikir kita punya dua pilihan bagus,” tukasnya.

Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden Joe Biden telah memerintahkan pemberian dukungan tambahan untuk Israel dan akan tetap berhubungan erat dengan pemerintah Israel.

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan pada hari Minggu (8/10) bahwa ia telah memerintahkan kapal induk Ford untuk berlayar ke wilayah timur Laut Tengah untuk bersiap-siap membantu Israel setelah serangan Hamas yang menyebabkan lebih dari 1.200 orang tewas di kedua belah pihak.

USS Gerald R. Ford, kapal induk terbaru dan tercanggih Angkatan Laut AS, dan sekitar 5.000 pelaut serta armada pesawat tempurnya akan didampingi oleh sejumlah kapal penjelajah dan kapal perusak untuk siap merespons apa pun, termasuk mencegah kemungkinan aliran senjata tambahan mencapai Hamas dan melakukan pengawasan.

Selain Ford, AS juga mengirimkan kapal penjelajah USS Normandia dan kapal-kapal perusak USS Thomas Hudner, USS Ramage, USS Carney, dan USS Roosevelt. AS juga menyertakan F-35, F-15, F-16, dan A- 10 dalam skuadron pesawat tempur di wilayah tersebut.

“AS mempertahankan kesiapan pasukannya secara global untuk lebih memperkuat posisi pencegahan ini jika diperlukan,” kata Austin dalam sebuah pernyataan.

Kelompok penyerang dari kapal induk itu, yang berbasis di Norfolk, Virginia, kini sudah berada di Laut Tengah. Pekan lalu mereka melakukan latihan angkatan laut dengan Italia di Laut Ionia. Kapal induk ini sedang dalam operasi penuh pertamanya.

Selain itu, pemerintahan Biden “akan segera menyediakan peralatan dan sumber daya tambahan kepada Pasukan Pertahanan Israel, termasuk amunisi. Bantuan keamanan pertama akan mulai dikirim hari Senin (9/10) dan tiba dalam beberapa hari mendatang,” kata Austin.

Pengerahan dalam jumlah besar ini mencerminkan keinginan AS untuk mencegah perluasan konflik regional. Namun pemerintah Israel secara resmi menyatakan perang pada hari Minggu dan memberikan lampu hijau untuk “langkah militer yang signifikan” untuk membalas Hamas. [lt/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com