Anti-Islam, ‘Donald Trump’ versi Belanda

Geert Wilders, tokoh populis sayap kanan yang juga dikenal sebagai dedengkot anti-Islam sering mendapat julukan Donald Trump dari Belanda. Dia beberapa kali mendapatkan ancaman pembunuhan yang dilayangkan oleh ekstremis Islam. Wilders juga pernah dibui karena menghina warga Maroko, dan bahkan Inggris pernah melarangnya masuk ke negara tersebut.

Kini Wilders berhasil meraih kemenangan besar dalam pemilu Belanda dan berada di posisi terdepan untuk membentuk koalisi pemerintahan berikutnya dan mungkin menjadi perdana menteri Belanda berikutnya.

Sebuah jajak pendapat yang menunjukkan kemenangan besarnya tampaknya mengejutkan Wilders, veteran politik berusia 60 tahun.

Reaksi pertama Wilders ketika mendapatkan berita itu adalah mengunggah sebuah video di platform X, sebelumnya dikenal sebaai Twitter. Ia terlihat merentangkan tangannya lebar-lebar, meletakkan wajahnya di tangannya dan berkata “35!”, jumlah kursi yang diperkirakan bakal diperoleh partainya, Partai untuk Kebebasan (Party for Freedom/ PVV), berdasarkan jajak pendapat di majelis rendah parlemen yang memiliki 150 kursi.

Wilders, tokoh yang dikenal berlidah tajam, telah lama menjadi salah satu anggota parlemen Belanda paling populer, baik di dalam maupun luar negeri. Kebijakan populisnya dan warna rambut pirangnya yang mencolok, membuat Wilders sering kali disandingkan dengan Trump.

Namun, tidak seperti Trump, ia tampaknya ditakdirkan untuk menghabiskan hidupnya sebagai tokoh oposisi politik.

Wilders nyaris berhasil memimpin ketika ia mendukung koalisi pertama yang dibentuk oleh Perdana Menteri Mark Rutte pada 2010, tetapi ia tidak bergabung secara resmi. Kemudian ia membubarkan koalisi tersebut setelah berusia 18 bulan karena perselisihan mengenai kebijakan penghematan. Sejak itu, partai-partai arus utama menjauhinya.

“PVV ingin, dari posisi yang fantastis dengan 35 kursi yang tidak dapat lagi diabaikan oleh partai mana pun, bekerja sama dengan partai lain,” katanya kepada para pendukungnya di pinggiran kota kelas pekerja Den Haag

Selain membuat politisi utama menjauhinya, retorika anti-Islam yang tajam juga membuat Wilders menjadi sasaran empuk ekstremis. Ia terpaksa hidup di bawah perlindungan penuh waktu selama bertahun-tahun. Ia pernah muncul di pengadilan sebagai korban ancaman pembunuhan, tetapi bersumpah untuk tidak akan pernah diam.

Saat memberikan suara pada Rabu (22/11) di Balai Kota Den Haag, Wilders diapit oleh sejumlah penjaga keamanan bertubuh kekar yang memindai aula untuk melihat potensi ancaman. Wilders berpindah dari satu rumah persembunyian ke rumah persembunyian lainnya selama hampir dua dekade.

Pada 2009, Pemerintah Inggris menolak mengizinkannya mengunjungi negara tersebut, dengan alasan bahwa ia merupakan ancaman terhadap “keharmonisan masyarakat dan juga keamanan publik.” Wilders diundang ke Inggris oleh anggota majelis tinggi parlemen, House of Lords, untuk memutar film berdurasi 15 menit “Fitna,” yang mengkritik Al-Qur’an sebagai “buku fasis.”

Politisi sayap kanan Belanda dan pemimpin Partai PVV Geert Wilders muncul di layar yang menampilkan hasil awal dipemilihan parlemen di Amsterdam, Belanda, 22 November 2023. (Foto: REUTERS/Wolfgang Rattay)

Film tersebut memicu protes di seluruh dunia pada 2008 karena menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan rekaman serangan teroris.

Untuk merebut hati pemilih arus utama kali ini, Wilders melunakkan retorika anti-Islamnya dan berusaha untuk tidak terlalu fokus pada apa yang disebutnya sebagai “de-Islamisasi” di Belanda. Ia justru lebih fokus pada isu-isu penting seperti kekurangan perumahan, krisis biaya hidup, dan akses terhadap layanan kesehatan yang baik.

Namun, platform kampanyenya masih menyerukan dilakukannya referendum mengenai keluarnya Belanda dari Uni Eropa, “penghentianan suaka” dan “tidak ada madrasah, Quran, dan masjid di negara tersebut. Meski begitu ia, Rabu (22/11) petang, berjanji untuk tidak melanggar hukum Belanda atau konstitusi negara yang menjamin kebebasan beragama dan berekspresi.

Wilders akan menjadi anggota parlemen yang paling lama menjabat di Parlemen Belanda pada akhir tahun ini. Dia telah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat sejak 1998.

Ia juga merupakan pendukung setia Israel dan menganjurkan pemindahan Kedutaan Besar Belanda ke Yerusalem dan menutup pos diplomatik Belanda di Ramallah, markas Otoritas Palestina.

Wilders dikenal tidak hanya karena politik garis kerasnya, tetapi juga karena kalimatnya yang cerdas, dan hewan peliharaannya. Kedua kucingnya, Snoetje dan Pluisje, memiliki akun sendiri di X, dengan hampir 23.000 pengikut. [ah/rs]

Sumber: www.voaindonesia.com