Ancaman Peningkatan Kekerasan Pasca Terbunuhnya Petinggi Hamas

Kerumunan massa di Ramallah ini menuntut aksi balasan untuk pembunuhan Arouri, meneriakkan slogan-slogan dan meminta kepada Sayyed Hassan Nasrallah, sekjen Hizbullah di Lebanon untuk mengambil tindakan.

Salah satunya adalah Hisham Ibrahim.

“Seperti yang selalu kami katakan, satu pemimpin pergi, ada lebih banyak yang akan datang. Karena itu, ini bukanlah akhir dan jika mereka membunuh salah satu pemimpin kami, ada lebih banyak pemimpin datang dan lebih banyak warga Palestina mengibarkan bendera, dan melanjutkan perjuangan melawan pendudukan ini,” kata dia seperti dilaporkan kantor berita AP.

Sebuah ledakan di ibukota Lebanon, Beirut pada Selasa, telah membunuh Arouri dan tiga orang lainnya, kata pejabat Hamas dan Hizbullah.

Kantor berita pemerintah Lebanon, National News Agency mengatakan bahwa ledakan itu disebabkan oleh serangan pesawat nirawak Israel.

Para pejabat Israel, menolak untuk berkomentar.

Jika Israel berada di belakang serangan tersebut, hal ini akan menandai peningkatan besar dalam konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, pimpinan Hamas, Ismail Haniyeh pada Selasa (2/2) menyatakan bahwa pembunuhan deputi pimpinan kelompok itu, Saleh al-Arouri dalam sebuah serangan di Beirut itu adalah sebuah tindakan teroris.

“Kami menegaskan, bahwa pembunuhan oleh penjajah Zionis terhadap saudara kami dan pemimpin pejuang nasional, sheikh Saleh al-Arouri, dan saudara-saudara dari kepemimpinan gerakan ini dan tim di tanah Lebanon adalah sepenuhnya tindakan teroris, pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan perluasan permusuhan Israel melawan rakyat dan bangsa kami,” kata Haniyeh seperti dikutip Reuters.

Haniyeh, dalam pidato televisi, berkabung atas kematian al-Arouri dan dua pemimpin brigade Al Qassam, Samir Findi Abu AMer dan Azzam Al-Aqraa Abu Ammar. Mereka terbunuh pada Selasa malam dalam serangan pesawat nirawak di Dahiyeh, daerah pinggiran kota Beirut bagian selatan.

Israel sejauh ini belum berkomentar langsung terkait serangan ini.

Pada Rabu, kepala agen intelejen Israel, Mossad, David Barnea memperingatkan bahwa mereka semua yang terlibat dalam serangan pada 7 Oktober di wilayah selatan Israel akan menerima balasan.

“Hari ini kita berada dalam pergolakan perang. Dan Mossad, saat ini seperti 50 tahun lalu, berkomitmen untuk melakukan perhitungan dengan para pembunuh yang menyerang daerah amplop Gaza (wilayah di selatan Israel, dekat Gaza) pada 7 OKtober, dengan rencana-rencana dan pelakunya,” kata Barnea seperti ditulis AP.

Dia berbicara dalam acara pemakaman mantan pimpinan Mossad Zvi Zamir di Israel tengah.

Di sisi lain, komunitas internasional didesak untuk memaksakan solusi bagi konflik Israel-Hamas, karena kedua pihak yang bertikai sampai saat ini tidak mampu berdamai. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell mengatakan kitu pada Rabu (3/3)

Borrell juga menyampaikan keprihatinannya terkait kemungkinan peningkatan konflik tersebut setelah pembunuhan deputi pimpinan Hamas, Saleh al-Arouri di Beirut pada Selasa.

“Risiko bahwa apa yang terjadi pada 2006 lalu bisa terjadi lagi, sebuah perang yang terbuka, adalah sebuah risiko yang malangnya tidak bisa dikesampingkan. Dan apa yang terjadi kemarin, dengan kematian salah satu pimpinan Hamas, adalah faktor lain yang bisa mendorong peningkatan konflik ini,” ujar Borrell.

Pembunuhan ini juga menjadi petunjuk lebih jauh bahwa perang yang sudah berlangsung hampir tiga bulan antara Israel dan Hamas ini telah menyebar di kawasan itu, terlihat di kawasan Tepi Barat yang diduduki, pertempuran Hizbullah di perbatasan Israel-Lebanon, dan bahwa jalur pelayaran Laut Merah.

Terkait konflik di Timur Tengah, Borrell jelas menyatakan bahwa solusi harus diusahakan dari luar kawasan.

“Sebuah perdamaian yang abadi hanya bisa dicapai jika komunitas internasional benar-benar ambil bagian dan memaksakan sebuah solusi,” kata dia. [ns/jm]

Sumber: www.voaindonesia.com