Ambisi Gerindra Menjadi Penguasa Senayan

Dibandingkan dengan sejumlah nama besar dalam kontestasi politik di Indonesia, sepak terjang Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bisa dibilang masih tertinggal dari sejumlah partai politik lainnya.

Namun, usia dan pengalamannya bukanlah segalanya. Terbukti, dengan figur kuat Prabowo Subianto yang berjalan beriringan dengan Gerindra, partai yang pertama kali terjun pada Pemilu 2009 ini bersiap untuk menjadi yang terdepan pada Pemilu 2024 mendatang.

Kurang dari sebulan sebelum Pemilu 2024 digelar, Gerindra menunjukkan tajinya dengan performa yang baik di sejumlah survei yang diadakan.

Hasil survei yang dirilis oleh Survei Litbang Kompas pada Desember lalu, misalnya, menunjukkan bahwa elektabilitas Partai Gerindra melesat mengungguli penguasa parlemen saat ini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dengan raihan suara 21,9 persen.

Polisi mengawal pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Gerakan Indonesia Raya (GERINDRA) di Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, 16 Mei 2009. (Foto: REUTERS/Supri)

Survei Indikator Politik pada akhir Desember lalu menunjukkan Gerindra bersaing ketat dengan PDI-P, menempel partai dengan julukan banteng merah tersebut dengan raihan 18,2 persen di posisi kedua.

Performa Gerindra tergolong apik karena berhasil jauh mengungguli partai-partai ‘senior’ di Senayan seperti Golongan Karya (Golkar), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Maju Menjadi Penguasa Senayan

Mengutip laman resmi Partai Gerindra, pembentukan Partai Gerindra bermula pada 2007 di mana kala itu orang-orang di lingkup dekat Prabowo, termasuk sang adik Hashim Djojohadikusumo berdiskusi soal kemungkinan membentuk partai politik yang baru.

Ide itu sempat ditentang oleh sejumlah pihak dalam lingkaran tersebut. Mereka menilai bergabung dengan parpol yang sudah ada lebih baik dibandingkan mendirikan sebuah partai politik yang baru. Saat itu, Prabowo juga masih menjadi bagian dari anggota Dewan Penasihat Partai Golkar.

Kandidat presiden Prabowo Subianto dari Gerindra menyampaikan tanggapannya pada debat presiden ketiga yang membahas masalah kebijakan luar negeri dan pertahanan nasional di Jakarta pada 22 Juni 2014. (Foto: AFP/ROMEO GACAD)

Kandidat presiden Prabowo Subianto dari Gerindra menyampaikan tanggapannya pada debat presiden ketiga yang membahas masalah kebijakan luar negeri dan pertahanan nasional di Jakarta pada 22 Juni 2014. (Foto: AFP/ROMEO GACAD)

Pertentangan tersebut berakhir dengan lahirnya Partai Gerindra pada 6 Februari 2008. Nama partai sendiri tercetus setelah Hashim, yang merupakan figur penting dalam partai, mencetuskan untuk menambah kata “Gerakan” pada dua kata “Indonesia Raya” yang telah tercetus sebelumnya.

“Kalau begitu pakai kata GERAKAN, jadi Gerakan Indonesia Raya,” kata Hashim, seperti dikutip dari laman resmi parpol itu.

Hashim Djojohadikusumo (kanan), 15 Juli 2014. (Foto: AFP/ROMEO GACAD)

Hashim Djojohadikusumo (kanan), 15 Juli 2014. (Foto: AFP/ROMEO GACAD)

Datang sebagai pendatang baru, Gerindra berhasil mengamankan 26 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat pada Pemilu Legislatif 2009.

Tahun 2014 sepertinya menjadi titik balik bagi Gerindra di mana saat itu untuk pertama kalinya Prabowo terjun mencalonkan diri sebagai calon presiden. Berpasangan dengan mantan Menteri Perhubungan, Hatta Rajasa, Prabowo saat itu maju menantang Jokowi yang hadir sebagai “figur segar” dengan latar belakangnya sebagai masyarakat sipil.

Walaupun Prabowo gagal mendulang kemenangan pada Pilpres 2014, tetapi pencapaian Gerindra meroket tajam pada pertarungan legislatif dengan berhasil finish di posisi ketiga di belakang dua nama senior, PDI-P dan Golkar. Pamor Prabowo berdampak besar pada elektabilitas partai, mendorong partai dengan lambang kepala burung Garuda itu meninggalkan julukan kuda hitam dalam kancah perpolitikan Indonesia.

Posisi tiga besar kembali berhasil dipertahankan oleh Gerindra pada pemilu 2019. Gerindra bahkan dapat menyalip Golkar dengan bertengger di posisi kedua dengan raihan suara total 17.594.839, mengekor PDI-P yang sukses mempertahankan keunggulannya dengan meraih 27.053.961.

Kandidat Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menyalami Joko Widodo-Jusuf Kalla sebelum acara debat di Jakarta, Senin (9/6).

Kandidat Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menyalami Joko Widodo-Jusuf Kalla sebelum acara debat di Jakarta, Senin (9/6).

Figur Kuat Prabowo

Sosok Prabowo Subianto langsung muncul di kepala banyak orang ketika nama Partai Gerindra disebut. Prabowo, yang kini menjadi kandidat terdepan dalam pemilu presiden pada 14 Februari mendatang, berhasil menjadikan Gerindra sebagai kendaraan politik yang kuat yang mampu mendorongnya untuk kembali terjun dalam perebutan kursi kepresidenan untuk ketiga kalinya.

Catatan performa yang terus menanjak serta didukung oleh sosok kuat Prabowo, yang kembali mencalonkan diri sebagai presiden untuk ketiga kalinya pada pilpres 2024, bukan tak mungkin Gerindra akan melesat menjadi yang terdepan pada pemilu legislatif 2024 mendatang. Gerindra digadang dapat mematahkan ambisi PDI-P untuk mencetak hattrick sebagai partai peraih suara terbanyak dalam tiga pemilu berturut-turut.

Dalam rilisnya pada Kamis (4/1), Lembaga Survei Nasional (LSN) menyebut bahwa Gerindra memiliki peluang untuk mengakhiri hegemoni PDI-P, yang berhasil bertahan dalam dua pemilu berturut-turut.

Hasil survei LSN yang digelar pada periode 28 Desember 2023 hingga 2 Januari 2024 di 38 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa Gerindra meraih 20,3 persen suara, mengungguli pesaing utama mereka, PDI-P, yang berada di urutan kedua dengan 18,5 persen. Hasil tersebut jauh di atas Golkar, yang bercokol di posisi ketiga dengan raihan 10,2 persen.

Umar Bakry, akademisi sekaligus pendiri LSN, mengatakan “Prabowo’s effect” berimbas kuat pada elektabilitas Partai Gerindra. Dalam wawancara dengan VOA, Umar menyebutkan jika tanpa sosok Prabowo, Partai Gerindra hanyalah partai papan tengah dalam dunia perpolitikan Indonesia.

Kandidat presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, pada kampanye di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta (23/3). (VOA/Andylala Waluyo)

Kandidat presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto, pada kampanye di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta (23/3). (VOA/Andylala Waluyo)

“Kalau gak ada Prabowo, Gerindra setingkat dengan Nasdem dan partai [papan tengah lainnya],” ujarnya pada Selasa (9/1).

Umar yang juga merupakan Ketua Umum Asosiasi Survei Opini Publik (ASOPI) menambahkan responden yang ikut dalam survei yang digelar LSN tidak terlalu familiar dengan kinerja anggota legislatif dari partai tersebut. Hal itu semakin menguatkan fakta akan ketergantungan partai pada sosok Prabowo.

Terlepas dari sosok Prabowo, peluang Gerindra untuk menyalip PDI-P pada pemilu mendatang juga didukung oleh faktor eksternal yang terletak pada sejumlah hambatan yang dialami oleh PDI-P sendiri.

“Kelihatannya PDI-P itu sekarang memasuki pemilu 2024, soliditas dan semangat tempurnya tidak sebagus [di] 2014 dan 2019. Di samping itu, faktor Jokowi yang tidak memberikan support pada PDI-P dan juga blunder-blunder yang dilakukan oleh Megawati,” kata Umar kepada VOA.

Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat kampanye di Medan, Sumatra Utara, 13 Januari 2024. (Foto: AP)

Calon presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat kampanye di Medan, Sumatra Utara, 13 Januari 2024. (Foto: AP)

Di Atas Angin

Hasil survei terbaru yang dilakukan sejumlah lembaga menunjukkan bahwa kandidat Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming unggul dari kedua pasangan lainnya.

Kontroversi seputar pencalonan Gibran, yang berujung pada pemecatan ketua Mahkamah Konstitusi, Anwar Usman, yang juga merupakan paman dari Gibran, tampaknya tidak mampu menggoyangkan popularitas pasangan capres dan cawapres ini, yang menjanjikan pemberantasan kemiskinan ekstrem dalam dua tahun masa jabatan jika mereka terpilih.

Prabowo pada pemilu kali ini hadir dengan sosok “gemoy” dan “figur yang tersakiti.” Kedua jargon tersebut tampaknya berhasil menunjang pamor sang mantan jenderal, terutama di kalangan para pemilih muda terlepas dari kritik yang muncul terhadap rekam jejak Prabowo di dunia militer.

Dalam sesi debat pilpres ketiga yang digelar pada Minggu (7/1) malam, baik Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo sejumlah melontarkan sejumlah kritikan terhadap beberapa kebijakan pemerintah dalam bidang pertahanan, yang menjadi ranah Prabowo sebagai Menteri Pertahanan.

Walaupun tampak kesulitan untuk membalas kritikan dari kedua pesaingnya itu dengan data, Prabowo dan timnya kini tampak memanfaatkan situasi yang muncul dengan menyebutnya sebagai bentuk serangan personal terhadap dirinya.

Strategi tersebut tampak berhasil. Pendukung setia kandidat nomor urut dua membanjiri ranah media sosial dengan unggahan yang memperlihatkan reaksi kecewa dan sedih dari para pemilih muda terhadap “serangan” yang dilontarkan kepada Prabowo dalam sesi debat kedua.

Barang-barang yang dipajang di toko resmi calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka dengan nomor punggung dua di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta pada 22 Januari 2024. (Foto: Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Barang-barang yang dipajang di toko resmi calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka dengan nomor punggung dua di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta pada 22 Januari 2024. (Foto: Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Tim pemenangan Prabowo-Gibran pun tampak tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang terjadi pada debat kedua pada hari Minggu lalu.

Komandan Tim Kampanye Nasional (TKN) Pemilih Muda (Fanta) Prabowo-Gibran, Arief Rosyid Hasan, mengatakan performa Prabowo dalam debat pada Minggu malam tidak akan terlalu berpengaruh pada elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran.

“Jadi, tidak terlalu berpengaruh debat malam itu, karena pada kenyataannya masyarakat sudah punya pilihan capres-cawapresnya. Apalagi, kita tahu hasil survei Desember lalu, Pak Prabowo unggul dibandingkan pasangan calon lainnya,” kata Arief dalam keterangannya pada Selasa (9/1) seperti dikutip oleh kantor berita Antara. [rs/ft/dw]

Sumber: www.voaindonesia.com